Mom-Shaming : You'll Know It When You Feel It

7:25 PM

Mom-Shaming adalah perilaku mempermalukan ibu-ibu lain dengan cara menampilkan diri sebagai ibu yang lebih baik darinya. Kritikan demi kritikan yang dilontarkan oleh ibu-ibu kepada ibu lain yang dinilai tidak benar dalam mengurus/mengasuh anaknya. Biasanya, mom-shaming terjadi terkait dengan metode persalinan, pola asuh anak, menyusui, penggunaan susu formula, atau apa pun yang berkaitan dengan anak. Mom-shaming dapat berupa sindiran, kritikan, komentar yang sifatnya negatif, yang biasanya dilakukan baik secara langsung di hadapan Ibu yang dituju maupun secara online di media sosial.

"Loh, kok gendong anak kayak gitu sih?"
"Badannya gendut banget, padahal baru punya anak 1"
"Baru lahiran sudah mau diet, gak kasian sama anaknya yang masih ASI itu?"
"Kok lahirnya sesar? Kenapa gak normal?"
"Anaknya kecil banget, gak dikasih makan ya?"

Jika sering mendengar atau bahkan mengatakan hal tersebut, berarti anda sedang melihat yang namanya Mom-Shaming. Suatu kata-kata simple, sederhana, tetapi dapat memberikan dampak yang negatif kepada Ibu tersebut. Pernahkah terlintas di pikiran kita, jika kita berkata demikian, apakah hati sang ibu akan terluka/atau tidak?

Mom-Shaming sendiri sering dilakukan oleh orang-orang terdekat, misalnya orang tua, suami/pasangan/orang tua wali, mertua, teman-teman, atau bahkan ibu-ibu yang tidak dikenal yang ditemui di muka umum/bahkan netizen-netizen di dunia maya.
  
Mom-shaming sendiri sering sekali dialami oleh Penulis, sebagai seorang Ibu baru yang anaknya terlahir prematur. 

Mom-Shaming yang sering dialami oleh penulis:
  • "Bayinya udah umur berapa? Ketika tahu usianya, lanjut, "Kok kecil banget   badannya?" 
  • “Kok diurus sama pengasuh? Kenapa gak urus sendiri? Gak takut diurus sama orang lain?"
  • “Baru punya anak 1 tapi badan udah melar banget kayak gitu. Apa jangan- jangan hamil lagi ya? Kok gendut banget”
  • “Kok diet? Gak nyusu-in emang? Gak kasian sama anaknya?"
  • “Loh, kok dikasih sufor? Sayang, kan ASI nya keluar.”
  • “Udah bisa apa saja? Kok belum bisa ini, belum bisa itu, dan seterusnya.”
Apakah menyakitkan? Penulis dapat bilang, iya agak menyakitkan.
Mereka tidak tahu bagaimana perjuangan Penulis untuk menaikkan berat badan anaknya yang katanya kecil itu, bagaimana gesekan batin yang dirasakan Penulis sewaktu meninggalkan anaknya untuk bekerja, bagaimana perjuangan Penulis untuk menahan makan untuk menurunkan berat badannya, dan bagaimana perjuangan Penulis untuk mengasah anaknya agar perkembangannya sesuai dengan usianya.

Akan tetapi, penulis jelaskan bahwa perkembangan bayi setiap anak itu berbeda-beda. Ada yang ketika sudah 5 bulan, anaknya sudah bisa guling-gulingan, ada yang ketika sudah 8 bulan, anaknya sudah tumbuh gigi dan sudah bisa jalan, akan tetapi banyak juga di luar sana yang pertumbuhannya tidak secepat itu.

Contoh, anak penulis, Hapsah. Hapsah baru bisa tengkurap bukan pada saat usia koreksinya 3 bulan, akan tetapi ketika usia koreksinya 6 bulan menuju 7 bulan (yang artinya usia lahirnya 9 bulan). Hapsah baru bisa guling-gulingan ketika usia koreksi 7, jalan 8 bulan. Bahkan sampai usia koreksi menuju 8 bulan, dia belum bisa duduk secara tegak.

Akhirnya Penulis tidak ingin memaksakan anaknya. Biarlah, dia tumbuh kembang dengan sendirinya.Tiap anak itu tidak bisa dipaksa dan pertumbuhannya berbeda-beda.

Apa yang menyebabkan banyak yang  melakukan Mom-shaming?
  1. Jenuh/BosanMenjadi seorang ibu rentan yang namanya rasa jenuh/bosan. Apalagi seorang Ibu tidak jauh-jauh dari seputar mengurus anak, mengurus rumah, mengurus suami, jika dilakukan setiap hari dengan rutinitas yang sama, maka seseorang cenderung akan merasa jenuh. Rasa jenuh tersebut umumnya yang dapat memancing seseorang melakukan sesuatu yang dapat melampiaskan kejenuhannya tersebut, termasuk Mom-Shaming, baik di sosial media maupun di lingkungan.
  1. Iri : Iri juga dapat menjadi faktor dilakukannya Mom-Shaming. Mungkin iri melihat anak lain mendapatkan hal yang tidak dapat ia berikan/lakukan untuk anaknya. Untuk menutupi rasa iri tersebut, akhirnya moms mempermalukan ibu lain dengan tujuan agar merasakan bahwa anak moms lah yang lebih beruntung dibanding anak orang lain.
  1. Melampiaskan Kemarahan Faktor ini lah yang muncul karena disebabkan oleh diri sendiri, dimana tidak dapat mengontrol emosi diri sendiri. Ketika Moms sedang marah dengan anak Moms, tetapi Moms tidak dapat melampiaskannya, maka memilih untuk melampiaskan pada orang lain. Salah satunya dengan mempermalukan ibu lain. Sehingga akan merasa tenang dan merasa bahwa pola asuh didiknya sudah benar.
  1. Ingin Mendapat PengakuanPengakuan sebagai apa? Pengakuan sebagai Ibu yang sempurna. Ibu  yang telah benar dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan tersebutlah, tak jarang akhirnya banyak wanita yang melakukan Mom-Shaming ke ibu-ibu lain.
Mom-Shaming sendiri mempunyai dampak yang bisa dikategorikan sebagai serius. Ada pun dampak dari Mom-shaming, yaitu:
1. Hilangnya rasa percaya diri di diri ibu yang menjadi korban mom-shaming;
2. Membuat si ibu yang menjadi korban merasa telah gagal menjadi seorang ibu  sehingga
    mempengaruhi dalam pola asuh kembang anaknya
3. Menebar rasa kebencian/kekesalan di hati si ibu yang menjadi korban mom-shaming
4. Mom-shaming secara terus menerus dapat membuat diri ibu tersebut menjadi depresi.

Mom-shaming juga bisa membuat sang ibu menjadi enggan, takut, dan tidak mau mengurus anaknya karena menganggap apa yang telah dilakukannya selama ini adalah suatu kegagalan. 

Oleh karena itu, penulis akan membagikan sedikit tips untuk mengatasi Mom-Shaming yang sering terjadi di kalangan ramai. Ada pun tips-tipsnya yaitu:
  • Menerima bahwa menjadi orang tua tidak terlepas dari kritikan.
  • Jika ada yang mengkritik, cukup dengarkan tanpa harus dimasukkan ke dalam hati.
  • Jika yang mengkritik adalah ibu sendiri, pahami mungkin itu adalah pernyataan bahwa orang tua ingin ikut terlibat dalam pengasuhan anak.
  • Tanamkan dalam diri bahwa bagi sebagian ibu, mungin cara untuk memberi tahu kita bahwa untuk tidak melakukan kesalahan seperti yang dulu ia pernah lakukan.
  • Habiskan waktu dengan orang-orang yang selalu mendukung, hindari interaksi dengan ibu-ibu yang sukanya mom-shaming-------------baik teman ataupun keluarga sendiri.
  • Gunakan humor sebagai jawaban atas mom-shaming. 
  • Anggap saja mereka-mereka yang suka mom-shaming tidak mengerti/tidak tahu alasan sebenarnya melakukan tersebut.
  • Yang lebih mengenal anak kita adalah kita sendiri, ibunya, bukan orang lain. Percayakan insting sebagai seorang Ibu.
  • Lebih mencari/menggali informasi terkait kesehatan atau pola asuh anak, sehingga ketika terjadi mom-shaming, kita dapat lebih bijak menanggapinya karena kita tahu ilmunya.
  • Never be like them because it can't stop mom-shaming. If you just stay cool and do nothing, they will stop mom-shaming.
Tidak ada orang tua yang sempurna. Tanpa kita sadari, pasti ada diantara kita yang pernah membuat suatu kesalahan.Akan tetapi, jangan jadikan kesalahan baik yang secara maupun tidak sengaja tersebut menjadi ajang untuk menghakimi orang lain. Belum tentu hal itu terjadi atas kehendak/kemauan dirinya. Semua sudah menjadi suratan takdir hidup seseorang.

Jangan biarkan ucapan kita malah terus menerus menyakiti hati orang lain. Kita tidak tahu perjuangan sang ibu tersebut, apa yang dilaluinya untuk mencapai netizen inginkan. Ini bukan masalah baper (bawa perasaan) atau tidak, akan tetapi, janganlah kita menjudge seseorang tersebut tanpa tahu apa yang telah dialaminya. 

#selfreminder

Love,

Sylvia

How To Enjoy Traveling With Infant (Baby Below 6 Months Old)

12:35 AM

Siapa yang tidak suka dengan "Traveling". I think most of people loves to do that. Go travel around the world, explore, and then see the beauty of that place. I think everybody loves it. But, how about traveling, when you have a baby? Mendengarnya saja sudah dapat dipastikan 'keriwehan' yang akan terjadi. Berikut penulis akan sharing tips-tips untuk traveling dengan membawa bayi dibawah usia 6 bulan dengan nyaman, aman, dan tetap menyenangkan.

#1   Request bassinet untuk penerbangan yang lama atau request tempat duduk depan jika penerbangan yang tidak memakan waktu yang lama 
Apa itu bassinet? Bassinet adalah tempat tidur bayi yang bisa dipasang di depan tempat duduk penumpang. Bassinet harus di-request terlebih dahulu pada saat check-in. Bassinet biasanya hanya disediakan khusus kepada penumpang internasional/perjalanan panjang.

Kenapa harus bassinet? Jawabannya sudah pasti agar bayi tertidur dengan nyaman dan pastinya dapat tertidur dengan pulas, selayaknya tempat tidur di rumah sendiri.

Untuk shorter flight, kita dapat request memilih tempat duduk yang depan, pada saat check in. Ini penting banget karena dapat memudahkan kita jika ingin bergerak, keluar, dan masuk pesawat. Sehingga tidak mengganggu orang lain juga.

#2    Persiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan
Untuk dokumen-dokumen yang diperlukan, biasanya setiap pesawat mempunyai aturannya tersendiri. Different airlines have different policies. Untuk itu, sebelum membooking tiket pesawat, ada baiknya cek aturan dari maskapai penerbangan itu terlebih dahulu. Ada beberapa maskapai yang akan meminta “Surat Keterangan Sehat/Izin Terbang” dari Dokter Specialis Anak untuk bayi-bayi dibawah 1 bulan. Jadi, sebelum terbang, ada baiknya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter ya, moms.

#3   Persiapkan barang-barang yang hanya diperlukan, seminimal mungkin
Nah, kalau ini khusus buat moms yang mungkin bepergian dekat dan tidak perlu menggunakan bagasi (karena bagasi sekarang di Indonesia kan bayar ya mom, jadi lumayanlah ya :p). Coba kira-kira diperinci, misal day 1 si baby menggunakan baju apa, celana apa, baju tidur, singlet, kaos kaki). Itu semua dikemas dan ditaruh di plastic (agar tidak terkena debu dari si koper itu). Each day, sebaiknya berbeda plastic, agar nantinya mudah untuk diambil dan pastinya lebih rapi dalam packing. Kemudian untuk peralatan mandi, sebaiknya ditaro di suatu tempat yang lebih kecil dan praktis, jadi, tidak memerlukan banyak tempat.

Untuk penerbangan international/yang jauh, bisa memilih bagasi, jadi aman sejahtera sentosa untuk barang-barang si baby.

#4   Stroller dan Gendongan
Kalau ini pasti wajib, bagi mereka yang tidak ingin kerepotan menggendong si bayi selama perjalanan. Tetapi, menurut penulis, it’s better to bring “gendongan”. Karena untuk yang penerbangan dalam negeri, sekarang banyak banget yang menyewakan ‘stroller’ per hari. Jadi, tidak perlu ribet dan tidak perlu memaksakan untuk membeli stroller cabin size, jika tidak punya.

Untuk gendongan, perlu diperhatikan untuk usianya ya, moms. Seperti baby Hapsah, yang masih dibawah 4 bulan (usia koreksi), berhubung belum bisa menggunkan hipseat, jadi penulis sarankan untuk menggunakan gendongan depan yang biasa aja, bisa merek baby scoot (yang tidak ada tempat dudukannya). Jadi, si baby bisa melihat ke arah yang menggendongnya dan ke arah depan (ini posisi yang paling disukai sama baby Hapsah).

Selain itu, Penulis juga menyarankan agar membawa gendongan kain batik, karena si baby akan sangat nyaman tertidur pulas digendong dengan gendongan kain batik. It’s really useful.

#5   Breastfeed, if you can
Kalau ini pastinya akan sangat memudahkan bagi para ibu untuk mengajak si baby traveling. Tinggal menyiapkan nursing apron, maka si baby bisa langsung menyusui. Jadi, tidak perlu kerepotan dalam hal membawa susu, termos, membuat susu, dan lain-lainnya.

#6   Menyusui, ketika take off and landing / Earmuff
Earmuff biasanya digunakan oleh para moms untuk melindungi telinga si bayi dalam hal adanya perbedaan tekanan udara. Kita, yang orang dewasa saja terkadang masih suka kesakitan telinganya. Earmuff harus kita sediakan sendiri, karena maskapai penerbangan biasanya tidak menyediakannya.

Untuk itu, ada saran dari Penulis. Jika pesawat sudah akan take off atau landing, persiapkan untuk menyusui si baby/memberikan susu formula kepada bayi. Banyak yang berpendapat, termasuk beberapa dokter, cara ini paling ampuh agar si bayi tetap tenang, dan nyaman selama take off, landing, atau pun setelah landing. 

Sekedar berbagi pengalaman, ketika kemarin penulis bepergian dengan baby Hapsah, Penulis mencoba mengikuti saran orang tua bahwa telinganya disumpel tissue dan kemudian dipakaikan penutup kepala. Dikiranya ini sudah cukup, tapi ternyata tidak seampuh dengan menyusui atau memberikan susu kepada si bayi. 
 
#7   Pesan penerbangan yang jadwalnya sama dengan jadwal tidur si baby
Penerbangan yang jadwalnya sama dengan jadwal tidur si bayi akan sangat menolong kita, moms. Dijamin, pasti si baby akan tidur terlelap dan tidak akan merasa bosan dalam pesawat.

#8   Sewa mobil yang luas
Pengalaman ya moms, kemarin ketika baby Hapsah diajak jalan-jalan dengan menyewa mobil, kita sekeluarga keribetan sendiri, karena mobilnya pas-pas san isinya. Sekedar saran, ada baiknya jika menyewa mobil yang agak besar atau kalau perlu 2 mobil, jika yang bepergian cukup banyak orangnya. Jadi, moms juga dapat leluasa dalam menaruh si baby, jika mau ganti diapers atau jika si baby lelah ingin tertidur.

#9   Bring baby toys as much as you can
Yang namanya baby pasti akan merasa cepat bosan, apalagi jika perjalanan jauh yang panjang. Ada baiknya, disetiap perjalanan kemana pun kita pergi, kita membawa mainan-mainan bayi yang disukai oleh anak kita. Misal, kalau baby hapsah sangat suka dengan mainan yang bisa mengeluarkan suara. Just bring them, karena itu dapat ‘setidaknya’ menyelamatkan kita dari tangisan bosan si baby.

#10  Know when to call it
Mungkin tidak semua perjalanan itu berjalan dengan mulus. Terkadang, perjalanan itu bisa saja gagal. Si bayi menangis bosan, si bayi menangis kejer, si ibu terkena baby blues, si bapak juga tidak senang, semuanya menjadi tidak karuan. Jika hal itu terjadi, jangan paksakan diri untuk tetap melanjutkannya. Call it and walk out. Just go back to the hotel, dan mencoba untuk beristirahat menenangkan pikiran.

#11  Cari penginapan yang ada air panas dan wastafel
Ini diperlukan jika kita ingin memandikan si bayi. Jika hotelnya sudah tersedia air panas dan juga wastafel, moms dapat langsung memandikan si bayi. Yang susah itu adalah jika tidak ada air panas dan wastafel. Jadi, moms lebih baik pastikan terlebih dahulu apakah di hotel tersedia 2 hal itu.

#12  Don’t panic and help mom
Jika ada serangan fajar tiba-tiba (serangan baby blues), jangan panik. Cobalah untuk bersikap biasa dan pikirkan hal-hal yang positif saja. Untuk para bapak, tolong coba lebih mengerti si isteri, jangan hanya kemudian memarahi si moms karena melihat si moms terlihat panik dan gak karuan.
Coba untuk lebih mencari tahu penyebabnya. Dan coba untuk lebih halus berbicara dengan isterinya, karena perasaan itu hanya drasakan oleh sang ibu, bukan orang lain.

#13   Cari tempat yang aman dan ramah untuk baby
Jika traveling dengan baby, maka yang harus dipikirkan terpenting adalah tempatnya. Jangan pernah samakan traveling sendiri dengan traveling membawa bayi. Kita harus mencari tempat-tempat yang ramah untuk baby, misalkan seperti café, atau tempat-tempat yang indoor. Jangan paksakan untuk membawa bayi ke tempat-tempat yang panas, penuh dengan orang, karena itu nantinya dapat membuat si baby merasa tidak nyaman dan akhirnya rewel. Kita haruslah mengalah demi kenyamanan si baby.

#14   Pelajari : how to use seatbelt for a baby
Ini yang tidak dipahami oleh Penulis ketika traveling menggunakan pesawat bersama si baby Hapsah. Ketika mau take off, salah satu pramugari di salah satu maskapai penerbangan di Indonesia memberikan seatbelt and then she said : "Ini ya seatbelt untuk bayinya" tanpa diberitahukan cara menggunakannya. Akhirnya, karena penulis bingung, seatbelt yang sangat berguna itu pun tidak dapat dipakai.

Jadi moms, penting banget untuk mencari tahu cara menggunakan seatbelt untuk bayi sebelum take off pesawat. Karena tidak semua maskapai penerbangan di Indonesia memberikan informasi tersebut.

#15  Try to be more positive and just enjoy the vacation
Nah, untuk tips terakhir ini sepertinya memang harus diterapkan selama perjalanan. Just try to think and be positive. Enjoy the vacation as much as you can. Karena momen itu tidak mungkin datang 2 kali. Dan momen itu juga tidak dapat dibayar oleh apapun juga. Coba untuk lebih rileks, dan ketika memang kepala sudah tidak tahan /lelah, beristighfar akan sangat membantu.

Isi diaper bag & carry on list :
  1. Diapers - 4 or 5;
  2. Tissue Basah - untuk badan, wajah/mulut;
  3. Baju ganti untuk bayi - 1 atau 2 baju;
  4. Gendongan - instan/batik;
  5. Extra gendongan untuk jaga-jaga;
  6. Mainan;
  7. Selimut;
  8. Handuk kecil untuk baby;
  9. Pacifier - if the baby likes it;
  10. Trash bag - untuk popok yang kotor/basah;
  11. Hand Sanitizer;
  12. Stroller – is just an option;
  13. Kerudung/Bandana ganti;
  14. Termos, susu formula di tempat kecil, dan botol  (jika tidak breastfeeding);
  15. Cream dan bedak di tempat kecil, untuk ganti diapers;
  16. Cologne;
  17. Nursing Apron.
Isi suitcase :
  1. Penyedot ingus, cotton bud, gunting kuku;
  2. Medical supplies – thermometer, diaper cream, obat sanmol (untuk jaga-jaga);
  3. Baby clothes – outfits, sweaters, jackets, pajamas, shocks, sleepsuit;
  4. Extra blankets;
  5. Perlengkapan mandi baby – sabun, shampoo, minyak telon, and lotion;
  6. Perlengkapan cuci botol dan cuci baju baby – include sikat botol;
  7. Beberapa persediaan diapers selama liburan dan tissue basah;



 
Love,
 
Sylvia



                            



Hijab untuk anak perempuan : Wajib / Tidak

10:52 PM


Islam mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat. Aurat laki-laki mulai dari pusar hingga lutut, sementara aurat perempuan adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan.

Bagi perempuan, terdapat pula kewajiban untuk mengenakan jilbab, yaitu pakaian atau kain yang menutupi kepala hingga bagian dada. Perintah ini tertuang dalam Al-Qur’an yaitu Surah An-Nur :

" ... Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya...."
(QS. An-Nur : 31)

Dan juga tertuang dalam Surah Al-Ahzab :

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, Hendaklah mereka menutupkan Jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha pengampun, maha penyayang."
( QS. Al Ahzab : 59)

Kewajiban ini berlaku bagi para Muslimah yang telah baligh serta berakal. Sedangkan bagi anak kecil, kewajiban ini tidak berlaku. Ada pun anjuran orang tua kepada anak yang belum baligh yaitu menyuruh anaknya untuk shalat ketika berumur  7 tahun. Jika sudah 10 tahun tidak shalat, maka dibolehkan untuk memukulnya. Pukulannya pun bukanlah pukulan yang menyakiti, tetapi pukulan kasih sayang.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).”
(Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 495), Ahmad (II/180, 187) dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallaahu ‘anhum)

Ketaatan wanita dalam menjalankan perintah Allah untuk memakai hijab adalah salah satu cara untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dan menjadikannya mengharap ridho Allah. Dan seorang wanita mukmin akan menjalankan perintah ini dengan riang gembira. Inilah yang dinamakan dengan Ibadah.

Bagaimana dengan anak perempuan?
Di atas telah disebutkan bahwa anak kecil yang belum baligh, tidak wajib untuk menggunakan hijab. Akan tetapi, kita sebagai orang tua dapat melatih anak kita sejak dirinya masih kecil.


Syaikh Ali Ash-Shobuni berkata,

“Setiap orangtua muslim diminta untuk membiasakan putrinya memakai hijab syari di usia 10 agar tidak sulit untuk memerintahkannya di kemudian hari.” (Usia 10 ini diqiyaskan dari perintah dalam hadist yang telah kita bahas sebelumnya).

Dr. Khalid Basalamah berkomentar, “Sesuai pemahaman saya, jika diqiyaskan dengan hadist tersebut, maka seharusnya di usia 7. Usia 10 itu usia saat seorang anak dipukul jika tidak menggunakan hijab (usia evaluasi). Dan usia 10 itu usia yang sangat terlambat untuk mendidik anak-anak beribadah.”

Para ulama Syafi’iyah berkata,

“Anak perempuan itu dihijabkan ketika sudah diminati sehingga berbeda-beda usianya. Perbedaan ini bisa dinilai dari tingginya, kesehatannya, kecantikannya, atau dari lingkungan ia tinggal. Ia diperintahkan untuk berhijab meski belum baligh. Jika anak tersebut sudah mulai disukai namun belum diberikan hijab, maka berdosalah orangtuanya. Sebagian anak tersebut ada yang sudah diminati di usia 10, ada juga yang di usia 7.”

Bagaimana cara melatih seorang anak perempuan untuk memakai hijab?
Biasakan mengarahkan anak-anak untuk menutup aurat di usia 3-4 tahun. Hendaknya anak di usia tersebut tidak dibiasakan buang air kecil sembarangan atau berlarian tanpa menutup aurat. Anak perempuan juga dapat dilatih untuk menggunakan celana panjang, bahkan ketika tidur. Sejak usia 5 tahun, anak perempuan sebaiknya dilatih untuk tidak berkumpul dengan pria yang bukan mahramnya. Mereka juga dimotivasi untuk memakai hijab saat keluar rumah.

Berikut ada beberapa tips untuk melatih anak perempuan memakai hijab.

1.     Intropeksi diri
Sebisa mungkin untuk menutup aurat bagi sang ibu terlebih dahulu. Karena anak-anak biasanya mengikuti apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Jika kita menginginkan anak kita shaleh/shaliha, maka kita sendiri sebagai orang tua harus lah memberikan contoh yang baik kepada sang anak.

Jika ingin mempunyai anak yang rajin shalat, maka kita sebagai orang tua harus rajin shalat terlebih dahulu. Jika ingin mempunyai anak yang rajin membaca Al-Qur’an, kita sebagai orang tua harus rajin membaca Al-Qur’an terlebih dahulu, baru bisa memperkenalkan itu kepada sang anak.

Terlebih dengan hijab. Jika ingin anak perempuan kita menggunakan jilbab, maka biarkan sang anak terbiasa melihat ibunya berpakaian lengkap termasuk jilbab, jika ingin keluar rumah, bahkan meski cuma di rumah jika ada lelaki yang bukan mahramnya.

2.    Memperkenalkan pakaian muslimah bagi anak-anak.
Sang ibu dapat memperkenalkan pakaian muslimah bagi anak-anak sejak mereka masih kecil. Sang ibu dapat memakaikannya ketika sang anak dalam perjalanan keluar rumah. Sang ibu dapat juga memakaikan pakaian muslimah yang bahannya dingin, adem, sehingga sang anak pun betah memakainya.

3.    Memberikan motivasi dan pujian bagi anak
Hal ini penting untuk dilakukan dengan tujuan si anak merasa nyaman menggunakan pakaian tersebut. Berikanlah motivasi seperti :
“MasyaAllah, kamu cantik sekali nak kalau berhijab.”
“MasyaAllah, kamu terlihat menawan dan anggun dengan hijab, nak”
“MasyaAllah, Allah pasti akan lebih sayang sama kamu dengan kamu memakai hijab, nak”

4.    Memberikan pemahaman tentang hijab kepada anak
Sang ibu dapat memberikan pemahaman tentang hijab itu sendiri kepada anak. Sang ibu dapat memberikan pemahaman bahwa :
"Hijab itu adalah kewajiban setiap muslimah, nak"
"Hijab itu adalah perintah langsung dari Allah yang harus kita lakukan"
"Hijab itu sebagai pelindung seorang wanita dari orang-orang yang mungkin berniat jahat kepadanya"
"Hijab itu sebagai mahkota bagi setiap wanita karena dengan hijab, seorang wanita itu jauh lebih berharga karena dia berusaha untuk menjadi seorang muslimah yang sejati"

     5.   Memberikan lingkungan yang baik kepada anak
Lingkungan yang baik adalah cara yang terpenting dilakukan di zaman sekarang. Lihat kepada siapa anak-anak itu berteman, bermain, dan belajar bersama. Ciptakan lingkungan keluarga yang baik terlebih dahulu, baru kemudian lihat lingkungan sekitar si anak. Lingkungan yang baik itu adalah lingkungan yang dapat menambah kecintaan si anak terhadap jilbab. Pilihkan sang anak tempat yang berilmu seperti majelis pengajian anak-anak atau sekolah yang islami. Dengan begitu, dia nantinya insyaAllah akan terbiasa dengan seputar Islam dan diharapkan dapat menumbuhkan kecintaannya terhadap Islam.

     6.     Sebaiknya tidak menggunakan embel-embel “hadiah”
Mungkin banyak sebagian orang tua yang menggunakan cara ini dengan tujuan agar anak mengikuti perintah orang tua tersebut. Akan tetapi, menurut penulis sendiri, apabila dari awal sudah diembel-embel dengan kata-kata “Hadiah”, apabila suatu saat si orang tua ternyata lupa atau ingkar janji, ditakutkan si anak justru akan merasa bahwa orang tuanya itu tukang bohong dan tidak patut untuk diikuti perintahnya. Hadiah memang perlu diberikan tetapi bukan sebagai reward karena si anak mengikuti perintah orang tuanya. Hadiah dapat diberikan kapan pun, dengan syarat tidak membuat janji kepada si anak. Jika ingin memberikan hadiah kepadanya, tidak perlu orang tuanya menyampaikan keinginannya tersebut kepada anak. 

Cukup berikan pemahaman bahwa jilbab itu adalah wajib, karena perintah Allah, Sang Pencipta. Katakan pada anak, jika ia tidak melaksanakan perintah Allah, nantinya Allah dapat marah dan tidak sayang lagi kepada keluarga kita.

7.     Selalu berdo'a memohon agar selalu istiqhamah di jalan-Nya
Ini adalah jurus terjitu bagi orang mukmin. Karena bagi orang mukmin, doa adalah senjata paling ampuh. Ya, terus do’akan keluarga kita, anak-anak kita, selalu dalam perlindungan Allah. Terus do’akan anak-anak kita kelak menjadi anak yang shalih/shaliha. Karena Allah adalah Maha Membolak-bolakkan hati setiap umat-Nya. Tugas kita hanyalah menyampaikan dan berdo’a, terus mendo’akan agar keistiqhamahan dalam menjalankan perintah Allah akan terus dilaksanakan sampai maut menjemput.

Demikianlah informasi yang dapat Penulis sampaikan terkait pembahasan kali ini. Semoga anak-anak kita nantinya dapat tumbuh besar menjadi pribadi yang taat kepada Allah Azza Wa Jalla, yang selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan semoga nantinya anak-anak kita dapat menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Aamiin Ya Rabbal Alamin..





Love,



Sylvia



Baby Blues Syndrome Pada Newbie Mom : Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

1:01 AM


Apa itu Baby Blues Syndrome?

Baby Blues Syndrome atau postpartum distress syndrom yaitu perasaan yang sangat sedih/emosional yang dialami oleh seorang ibu yang baru melahirkan.  Banyak orang yang menyamakan baby blues dengan syndrom pasca melahirkan. Dilihat dari gejalanya memang keduanya memiliki gejala yang mirip, bahkan cenderung sama. Perbedaannya yaitu ditandai dengan kelalaian seorang Ibu untuk mengasuh bayi yang baru dilahirkannya tersebut. 

Gejala Baby Blues Syndrome 

Gejala baby blues syndrome antara lain : 

  1. Ibu akan menangis tanpa alasan yang jelas;
  2. Ibu akan merasa cepat lelah; 
  3. Ibu akan mudah tersinggung;
  4. Ibu akan sulit untuk istirahat; 
  5. Ibu akan mudah kesal;
  6. Ibu menjadi kurang percaya diri;
  7. Ibu menjadi tidak sabar; 
  8. Akan muncul perasaan kurang nyaman dan cemas; 
  9. Dan akhirnya si Ibu memilih untuk tidak mengurus si bayi.

Apa Penyebab  Baby Blues Syndrome?

Baby blues syndrome dapat terjadi diakibatkan oleh hormon. Hormon yang dibutuhkan untuk melahirkan akan berkurang setelah anak itu dilahirkan, akan tetapi hormon lainnya yang diperlukan untuk memproduksi ASI akan meningkat sehingga memberikan efek yang besar dan  berpengaruh pada emosional si ibu. Selain pengaruh hormon, ketidaksiapan mental untuk menjadi ibu juga menjadi faktor penyebab baby blues. Perubahan yang tadinya wanita karir biasa, kemudian menjadi seorang ibu yang harus memberikan perhatiannya kepada si bayi, mengakibatkan munculnya kecemasan yang berlebihan pada ibu baru. Kecemasan ini kemudian semakin menambah ketakutan dikarenakan sulit tidur.

 
Perbedaan Baby Blues Syndrome dan Postpartum Depression
Antara Baby blues syndrome dengan postpartum depression hanya terletak pada frekuensi dan lamanya durasi. Jika Bunda telah mengetahui tentang apa itu baby blues, penyebab dan gejalanya, maka begitu pula dengan Postpartum depression. Perbedaannya ialah, jika postpartum depression akan berlangsung lebih lama, lebih kuat, dan lebih keras gejalanya. Bunda akan merasakan rasa sedih yang berlebih, cemas yang sangat dalam dari biasanya.

Cara Mengatasi Baby Blues Syndrome
Meski baby blues syndrome ini bukanlah sebuat penyakit yang membahayakan, baby blues ini dapat hilang dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu. Tetapi, jika si ibu kurang tidur, maka baby blues ini dapat semakin memburuk. Oleh karena itu, baby blues dapat diatasi dengan meluangkan waktu untuk beristirahat dan bersantai, selagi si kecil sedang tertidur pulas. 

Selain itu, peran Ayah, sebagai pasangan juga berperan penting dalam hal pencegahan baby blues itu sendiri. Seorang ayah harus lebih memperhatikan kondisi si Ibu yang merasa cepat lelah dan merasa bersalah, jika tidak pandai mengurus si bayi. Sang ayah harus dapat meyakinkan si Ibu untuk selalu menjadi ibu yang tegar, tabah, dan sabar. 

Lantas, apakah penulis sendiri pernah mengalami yang namanya baby blues syndrome?

Jawabannya : Ya, pernah.

Jadi, selama si bayi di inkubator (sudah tahu kan ya kalau anak pertama Penulis terlahir prematur), penulis merasakan yang namanya syndrom pasca melahirkan. Setiap malam kepikiran, menangis hampir setiap malam, penulis juga merasakan mudah kesal, mudah tersinggung, putus asa, sedih, dan yang pastinya perasaan bersalah, seakan-akan bayi terlahir prematur itu adalah kesalahan penulis yang tidak dapat menjaga kandungannya dengan baik, padahal itu memang sudah kehendak dari Allah Azza Wa Jalla.

Bukan hanya syndrom pasca melahirkan, tetapi Penulis juga pernah mengalami baby blues syndrome itu sendiri. Dalam keadaan capek dan letih, kemudian menangis tiba-tiba hanya karena bingung memberhentikan tangisan bayi dan sampai-sampai pernah sekali mengacuhkan bayinya yang menangis. Tetapi, hal ini tidak berlangsung lama. Karena kebetulan saat itu ada suami yang menemani. Ini lah mengapa support dan dukungan dari pihak keluarga itu sangat penting untuk mengatasi syndrome tersebut. 

Berikut ada beberapa tips untuk mengatasi baby blues syndrome :

1.     Think positive dan selalu berdo’a
Selalu berpikiran positif dalam segala hal. Buang jauh-jauh perasaan negative tentang apa pun juga. Serahkanlah semua kepada Allah, Sang Pencipta, dan selalu berdo’a agar anak, suami, dan semua keluarga diberikan perlindungan dan berkahnya oleh Allah Azza Wa Jalla.

2.    Persiapan yang matang sebelum melahirkan
Persiapan meliputi persiapan fisik seperti perlengkapan bayi, biaya kelahiran, perlengkapan ibu melahirkan, dan juga persiapan mental untuk menjadi seorang isteri dan ibu.

3.    Pengetahuan tentang perawatan dan kesehatan bayi
Seorang calon ibu haruslah lebih rajin mencari informasi terkait persalinan, perawatan dan kesehatan seputar bayi, cara menyusui yang benar, dan sebagainya.

4.    Jangan disimpan semuanya sendiri
Support dan dukungan dari keluarga adalah yang terpenting dalam mengatasi baby blues syndrome. Berkeluh kesah kepada suami, bergantian dalam mengurus bayi akan lebih meringankan beban si Ibu, dan semangat suami kepada sang ibu sangatlah bermanfaat bagi ibu, agar pikiran si ibu dapat lebih rileks.

5.    Beristirahat selagi ada kesempatan
Merawat bayi membutuhkan perhatian yang ektra dan membutuhkan tenaga dan pikiran yang tidak sedikit. Hal ini tentu akan membuat Ibu letih dan capek. Oleh karenanya, apabila ada waktu istirahat, maka manfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat. Apabila si bayi sedang tertidur, maka waktunya bagi ibu pun untuk istirahat tidur, sebelum akhirnya si bayi terbangun untuk menyusui kembali.

6.    Memperhatikan pola makan
Seorang ibu, terutama ibu yang menyusui haruslah memperhatikan pola makan yang ia makan. Menjaga kebutuhan nutrisi dan vitamin sangatlah penting bagi seorang ibu, terutama ibu yang menyusui. 

7.     Sering sharing/berbagi pengalaman dengan sesama Ibu
Sempatkan waktu untuk bertemu dengan para ibu, untuk sekedar berbagi pengalaman dalam mengurus dan merawat bayi. Hal ini berguna untuk mengurangi beban Ibu pasca melahirkan. Selain itu, hal ini juga berguna agar si ibu merasa dunianya masih ada, meski sudah ada kehidupan baru pasca melahirkan.

8.    Stop berpikiran ingin menjadi orang tua yang sempurna
Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk kita, para mom. Jangan merasa bersalah jika tidak dapat melakukan semuanya dengan benar. Berhenti berpikiran bahwa ibu-ibu lainnya jauh lebih sempurna ketimbang kita. Jalani saja dengan gembira, tanpa memikirkan kesempurnaan tersebut. Karena untuk menjadi orang tua itu tidak mudah, bahkan cenderung sulit dilakukan. Jadi, tidak mengapa jika melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Karena tujuan kita bukan untuk menjadi keluarga yang sempurna, tetapi menjadi keluarga yang bahagia, dengan caranya sendiri.

Demikianlah yang dapat disampaikan oleh Penulis terkait baby blues syndrome. Semoga dapat bermanfaat bagi semua yang membaca. Dan semoga para ibu baru tidak harus mengalami baby blues syndrome ini.

 

Love,
Sylvia
 


Cegah, Atasi, dan Tangani Prematuritas

12:18 AM

Prematur, Ibu mana yang ingin melahirkan seorang anak yang prematur. Prematur itu sendiri diartikan kelahiran yang terjadi sebelum 37 minggu. Ada beberapa penyebab kelahiran prematur itu sendiri, yaitu :

  • Faktor Kesehatan Ibu, diantaranya : Preeklamsia, Penyakit yang bersifat kronis seperti penyakit ginjal atau jantung, penyakit infeksi, seperti infeksi saluran kemih, infeksi cairan ketuban, dan infeksi vagina, kelainan bentuk rahim, ketidakmampuan serviks menutup selama masa kehamilan, stres, kebiasaan merokok sebelum dan selama masa kehamilan, penyalahgunaan NAPZA, atau pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya.
  • Faktor Kehamilan, seperti : Kelainan atau menurunnya fungsi ari-ari, kelainan posisi ari-ari, ari-ari yang lepas sebelum waktunya, terlalu banyak cairan ketuban, dan ketuban pecah lebih awal.
  • Faktor Yang Melibatkan Janin, yaitu Kehamilan kembar dan kelainan darah pada janin. 
Namun, menurut penulis, prematur atau tidak, lahir secara normal atau cecar sekali pun adalah suatu Qadarullah, atau takdir Allah 'azza wa jalla. Bagi ibu hamil di luar sana, pasti menginginkan bayinya terlahir secara normal dan sehat. Tidak ada satu ibu pun yang menginginkan bayinya terlahir prematur. 

Tetapi, kembali lagi, ini semua adalah takdir ketentuan Allah. Bentuk kasih sayang Allah kepada umat-Nya. Rasa bersyukur harus tetap kita panjatkan karena telah diberikan kesempatan untuk melahirkan karunia-Nya yang begitu besar.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang tidak dapat selamat ketika dilahirkan, atau mereka yang selamat dilahirkan tetapi tidak bertahan di dunia dalam waktu yang lama? Dalam hadis dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ماتَ ولدُ العَبْدِ ، قالَ اللهُ لمَلَائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ: قَبَضْتُم ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ : مَاْذَا قالَ 
 عَبْدِيْ؟ فَيَقُولُونَ : حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ . فَيَقُولُ اللّهُ : ابْنُوا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بيتَ الحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?‘ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun‘. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian)‘.”
(HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)  

Kemudian, dalam riwayat lain, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ ، إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

“Tidaklah seorang muslim yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, yang belum baligh, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat yang Allah berikan kepadanya.”
 (HR. Bukhari 1248 dan Nasai 1884)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda,

 وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ لَيَجُرُّ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَىْ الجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan ari-arinya apabila ibunya bersabar (atas musibah keguguran tersebut).

Jadi, sudah jelas bahwa apabila ibu yang kehilangan bayinya itu bersabar atas kehilangannya dan menyerahkan kembali kepada Allah, InsyaAllah surga hadiah baginya. 

Kali ini, penulis akan berbagi tips terkait kelahiran anak pertamanya, Hapsah Yumna Maulana, yang terlahir prematur di usia kandungan 30 weeks dengan berat 1.2 kg.

#Tips 1 : Hati Yang Ikhlas

Bagi ibu-ibu yang melahirkan bayi prematur, siapkan hati yang ikhlas terlebih dahulu. Ikhlas dalam menjalani takdir Allah. Jangan lagi bertanya, kok bisa? kok aku? padahal aku sudah.......
STOP berpikiran demikian, karena ini semua sudah menjadi ketentuan dari Allah. Kita hanya menjalaninya dengan penuh keikhlasan. 

#Tips 2 : Stop Membandingkan Dengan Bayi Lain

Mungkin memang sudah lumrah namanya yang namanya manusia pasti akan membandingkan satu dengan yang lain. Tetapi, sebaiknya kita, para Ibu janganlah membandingkan anak si A dengan anak kita. Karena setiap anak itu berbeda. Terlebih lagi jika ia prematur. Jangan dibandingkan dengan pertumbuhan anak yang normal, karena pasti akan jauh tertinggal. Bersabar dan tetap berpikiran positif adalah kunci nya.

#Tips 3 : Siapkan Dana Yang Lebih

Dana, ini adalah yang terpenting. Mungkin bagi ibu yang lahirannya normal, hanya mempersiapkan dana untuk kelahiran. Akan tetapi, bagi kami, para ibu yang anaknya terlahir prematur, harus menyiapkan dana yang lebih untuk biaya rumah sakit. Ya, jika bayi yang dilahirkan prematur setelah lahir, harus segera dimasukkan ke dalam ruangan yang bernama "NICU" atau Neonatal Intensive Care Unit, suatu ruangan khusus untuk bayi-bayi yang terlahir prematur, bayi yang belum cukup umur atau bayi yang beratnya 2,5 kg. 
Biaya yang harus kita keluarkan untuk NICU itu sendiri berbeda-beda tiap rumah sakit, akan tetapi pada prinsipnya hampir sama, yaitu sekitar Rp5.000.000,00/hari nya. Jadi, bayangkan saja, semakin lama anak kita berada di NICU, maka biayanya yang harus dikeluarkan juga akan semakin besar. Sama halnya dengan yang dialami oleh Penulis, untuk memindahkan bayi pertamanya keluar dari NICU di suatu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, Penulis pun harus mengeluarkan biaya yang jumlahnya tidak sedikit (ini khusus untuk biaya anaknya saja, belum termasuk biaya lahiran).

Kemudian, Ibu-ibu yang bayinya terlahir prematur juga harus menyiapkan uang sebesar Rp750.000,00 untuk membeli 1 dus SIMILAC HMF. Ini pasti disuruh beli oleh semua DSA. 1 Dus Similac berisi 50 sachet yang setiap sachetnya dicampur dengan ASI yang kemudian akan diberikan kepada bayi prematur tersebut. Selain similac hmf, DSA juga pasti menyarankan untuk membeli susu "NEOCATE" yang 1 kalengnya seharga Rp300.000 - Rp450.000. 1 Kaleng itu berisi 400 gram susu. Biasanya Neocate adalah saran dari DSA untuk ibu-ibu yang ASI nya dirasa kurang untuk pertumbuhan si bayi. 

#Tips 4 : Persiapkan BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan adalah yang utama, bagi mereka yang ingin melahirkan tanpa harus memikirkan/memusingkan biaya yang besar. Biasanya, BPJS Kesehatan untuk si Ibu dan Calon Anak, sudah dapat dibuat dari ketika masih hamil 7 bulan. Ada baiknya untuk ibu-ibu hamil di luar sana, segera membuat BPJS untuk si Calon Anak. Karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, si ibu tidak perlu menunggu lagi, jadi semua dapat dicover oleh Pemerintah, termasuk untuk NICU itu sendiri.

# Tips 5 : Seorang Ibu Newbie Harus Mempersiapkan Mental

Seorang Ibu Newbie, atau ibu-ibu baru melahirkan, harus mempersiapkan mentalnya, terutama ketika melihat bayi yang dia kandung beratnya kurang dari 2,5 kg. Seorang Ibu tidak boleh adanya perasaaan takut, tidak bisa, atau apa pun juga yang nantinya dapat mempengaruhi mental si ibu itu sendiri. Khususnya untuk mereka yang mempunyai bayi prematur, seorang Ibu harus bisa sebisa mungkin untuk menghilangkan keraguan, kesedihan, kegalauan karena semua sudah menjadi takdir Allah. Percaya saja bahwa ini yang terbaik dari Allah. Yakin dan percaya bahwa suatu saat si anak itu pasti akan menjadi anak yang hebat, tidak kalah hebatnya dengan anak-anak terlahir normal lainnya.

#Tips 6 : Rajin Membaca & Mencari Tahu

Ini penting bagi semua ibu baru, bukan hanya mereka yang melahirkan bayi prematur. Saat ini, zaman sudah semakin canggih. Informasi apa pun pasti dapat kita cari di internet. Untuk ibu prematur, harus sering membaca artikel-artikel tentang bayi prematur, seperti : Susu yang bagus untuk menaikkan berat badannya, bagaimana cara meng-ASI-hi yang baik dan benar untuk bayinya, kenapa si bayi sulit untuk menaikan berat badannya, kapan waktu yang tepat untuk si bayi MPASI, dll. Hal itu tentu berbeda dengan bayi-bayi yang normal dilahirkannya. 

Bagi ibu-ibu pengguna instagram, bisa langsung melihat instagram official page untuk ibu-ibu pejuang bayi prematur : @premature.indonesia . Di situ terlihat jelas ilmu-ilmu tentang prematuritas itu sendiri. 

#Tips 7 : ROP, Periksa Telinga, Dan Control Berat Badan ke DSA Tiap Bulan

Untuk bayi yang dilahirkan prematur, ROP atau Retinopathy of Prematurity adalah wajib dilakukan sebelum bayi itu berumur 3 bulan. Apa itu screening ROP? ROP itu sendiri adalah pemeriksaan untuk kondisi yang ditemukan bayi prematur dimana retina belum terbentuk sempurna sehingga bisa menyebabkan kebutaan. Gejalanya itu terdapat lingkaran putih di mata dan tidak adanya respon ketika ada cahaya dan ketika sedang berbicara dengan orang sekitar. Kenapa harus sebelum usia 3 bulan? Sebetulnya tidak hanya 3 bulan, ada pun lebih cepat lebih baik, dengan tujuan dapat diantisipasi sedini mungkin sehingga resiko kebutaan itu dapat dicegah. 

Penulis pun menyarankan untuk menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan untuk cek ROP ini, karena cek ROP tidak hanya dilakukan 1 kali, tetapi berkali-kali. Tapi, meski sabar, karena untuk ROP pasti akan diajukan ke RSCM, dan itu antriannya lumayan bikin keki. 
Untuk pemeriksaan telinga sebetulnya memang wajib dilakukan juga untuk bayi-bayi prematur. Akan tetapi, dilihat Hapsah, bayi si Penulis mempunyai respon yang bagus terhadap suara, sehingga Penulis memutuskan untuk tidak mengecek (sebaiknya jangan diikuti :p)

Selain itu, si Ibu juga harus rutin mengontrol berat badan ke Dokter Spesialis Anak setiap bulannya. Hal ini supaya berat badan si bayi mendapatkan perkembangan yang baik dan tumbuh kembangnya pun bagus.

#Tips 8 : ASI Bagi Bayi Prematur

ASI, ya, ASI adalah asupan gizi yang paling baik untuk bayi-bayi baru lahir. Ketika Penulis melahirkan dalam usia kandungan 7,5 bulan, banyak yang mengira bahwa ASI nya tidak keluar. Tetapi, Alhamdulillah ASI sudah keluar, meski belum banyak, karena ASI itu sendiri keluar sesuai dengan kebutuhan si bayi itu sendiri. Pertanyaannya : kenapa bisa keluar? 

Yang pasti, Penulis hanya bisa berpesan bahwa ada beberapa yang dapat dilakukan supaya ASI itu bisa keluar dengan lancar, bahkan ketika melahirkan 7,5 bulan, yaitu :
1.  Perbanyak makan sayur Katuk ketika setelah melahirkan;
2.  Sebelum memompa/memberikan ASI, coba untuk memijat area payudara. Pijatan ini juga bisa dilakukan ketika masih hamil. Bedanya, bukan disekitaran area payudara, tetapi di belakang punggung. Untuk lebih rincinya, dapat melihat di youtube cara memijatnya. Ini bisa berpengaruh besar;
3.  Ketika hamil atau bahkan sebelum hamil pun, rajin memakan buah atau sayuran. Ternyata, ini berdampak besar bagi setelah hamil nanti;
4.   Perbanyak makan bubur Kacang Hijau setelah melahirkan.
Akan tetapi, jika memang sudah dicoba pompa ternyata ASI masih sedikit keluarnya, tidak masalah jika memberikan susu formula bagi si bayi. Penulis pun juga demikian. Karena dengan ASI, berat badan Hapsah ternyata susah naiknya, sehingga DSA menyarankan agar ditambah selang seling dengan susu formula yang khusus untuk bayi-bayi bblr.

Demikian tips yang dapat diberikan oleh Penulis. Terlepas itu bayi prematur/bukan, lahiran dengan proses melahirkan secara normal/cecar, atau meng-ASI-hi atau Susu Formula, semua ibu-ibu di luar sana telah berjuang dengan cara nya sendiri. Jangan pernah meremehkan siapa pun, karena untuk menjadi seorang isteri sekaligus ibu adalah hal yang tidak mudah. Semoga kelak kita bisa menjadi isteri dan ibu yang baik dan sempurna untuk suami dan anak-anak kita.

Aamiin Ya Rabbal Alamin...



love,
Sylvia