Kisah Ibu Janda, Pintalan, dan Burung Elang

1:52 AM

Dikisahkan hiduplah seorang ibu, dari anak-anak yatim. Sang Ibu memintal benang dengan pintalannya. Sang Ibu lakukan itu agar dapat menjual hasil pintalannya untuk membelikan makanan untuk anak-anaknya. Sang Ibu tidak memiliki harta kecuali alat pintal satu-satunya yang dia miliki saat ini.

Suatu hari, ketika si Ibu sedang memintal, datanglah seekor elang. Elang tersebut kemudian mengambil kain berwarna merah dan pintalannya. Setelah itu, elang tersebut pergi meninggalkan si Ibu.

Maka, si Ibu itu kemudian berfikir bahwa malamnya, sang anak-anak pasti akan kelaparan. Maka, dia kemudian pergi menemui Nabi Daud AS. 

Sang Ibu pun kemudian berkata, 

"Wahai Nabi Allah, aku adalah seorang Ibu atau janda dari anak-anak yatim"
"Dan aku memiliki anak-anak kecil. Dan aku tidak memiliki harta kecuali sebuah pintalan."
"Ketika aku sedang memintal, datang seekor elang yang mengambil pintalanku."
 "Dan sekarang aku tidak mempunyai apa pun lagi."

Seakan dia berkata, "Dimana Rahmat Allah SWT untukku. Apa yang Allah SWT lakukan padaku? Mengapa Allah SWT takdirkan ini?"
Maka, Nabi Daud AS berkata, 

"Duduklah wahai hamba Allah SWT."

Maka dia pun duduk.
Tak lama kemudian, datanglah para pedagang. 
Mereka berkata :
"Wahai Nabi Allah, telah terjadi kejadian begitu aneh kepada kami."
"Apa itu?"
"Sebelumnya kami berada di laut. Kapal kami mengalami kebocoran. Dan masuklah air ke dalam kapal kami. Kami yakin kapal kami akan tenggelam karena kami berusaha menahan air, namun kami tidak bisa. Secara tak sadar, ada seekor burung elang yang membuang pintalan ke kami. Maka kami ambil dan kami tambal untuk menutupi kebocoran kapal kami. Kemudian air pun berhenti. Maka setiap kami bernadzar untuk bersedekah 100 dinar. Dan kami ada 10 banyaknya di antara kami."

Nabi Daud AS pun berkata, 

"Mana wanita tadi? Mereka memberikannya (bersedekah) kepada ibu tadi dan ambillah"
"Rabbmu berdagang untukmu."
"Wahai Ibu, pintalan ini adalah pintalanmu. Rabbmu berdagang untukmu, namun kau mengeluh dari-Nya?"
"Dia mengambil pintalan dan menjualnya di lautan"
 "Engkau menjual pintalan dengan satu atau dua dinar, sekarang Allah SWT mendatangkan 1000 dinar untukmu."


MaShaAllah, Subhanallah..
Dan apa yang terjadi padamu, semua telah ditakdirkan oleh Allat SWT. Allah SWT mengatur kehidupan kita dengan begitu teliti, begitu menakjubkan, serta penuh kasih sayang. Seperti pada kisah Ibu, janda tersebut. Allah SWT memberikan dia cobaan, hanya supaya kita bersabar, tetapi lihat hikmahnya begitu luar biasa, bahkan diluar perkiraan kita, sebagai manusia biasa. Lantas, yakinlah pada rencana Allah SWT. Percayalah, bahwa sesungguhnya Allah SWT Maha Kuasa, Dia tidak akan pernah menyengsarakan umat-Nya. Dia begitu cinta dan sayang kepada umat-Nya. Dia hanya ingin melihat kita bisa menjadi manusia yang sabar, manusia yang tabah, dan manusia yang kuat. MashaAllah, Subhanallah, semoga kita akan selalu tergolong menjadi orang-orang beruntung, yang akan selalu mendapatkan rahmat dari-Nya. 
Aamiin Ya Rabbal Alamin..






Love,
Sylvia


Rindu Dalam Air Mata Sujud

9:35 AM

Ketika ku menutup mata, memori itu kembali teringat di benakku
Ketika ku menutup telinga, suara itu kembali menghantuiku
Ketika ku menutup mulut, hati ini seakan ingin berontak
Akankah kehidupan akan terus mempermainkan diriku?

Aku begitu terluka, aku begitu hancur
Setelah sekian lama, aku kembali dipermainkan oleh kehidupan ini
Kehidupan yang tak pernah berhenti mengusik diriku
Kehidupan yang tak pernah berhenti mengganggu jiwa dan pikiranku

Apakah aku tak boleh hidup berbahagia?
Apakah aku tak boleh hidup dalam dongeng dan khayalan?
Apakah aku tak boleh hidup dalam mimpi?
Apakah akhir kisahku tak bisa seperti dalam dongeng?

Aku ini hanya manusia biasa ya Allah
Aku tak sekuat itu, aku tak setegar itu, aku tak setabah itu
Betapa keras aku mencoba untuk bertahan
Betapa keras pula aku dipermainkan oleh hidup ini

Aku berharap ini semua hanyalah khayalanku
Aku berharap ini semua hanyalah mimpiku
Mimpi buruk yang hanya akan hidup dalam mimpiku
Mimpi buruk yang akan berakhir sewaktu aku membuka mataku

Tetapi, ini bukanlah mimpi, ini bukanlah khayalan
Ini adalah nyata, begitu nyata sampai membuat dadaku sesak
Ini adalah ujian untuk ke-sekian kalinya yang Kau berikan untukku
Ini adalah tamparan yang Kau berikan kembali untukku

Haruskah aku mensyukuri ini semua?
Haruskah aku berterima kasih kepada-Mu ya Allah?
Sungguh, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan
Sungguh, aku tak sanggup berkata lagi dalam lisanku ini

Aku hilang arah, aku tersesat
Bantu aku ya Allah, bantu aku untuk bertahan
Dahulu Kau mampu membantuku berdiri
Dahulu Kau mampu membangkitkan diriku

Kali ini pun, aku yakin Kau akan menolongku
Engkau yang  membolak-balikkan hati setiap manusia
Engkau dapat membuat Nabi Ibrahim AS mampu mengorbankan anaknya hanya karena-Mu
Engkau pulalah yang membuat Rasulullah AW begitu tegar sewaktu ditinggalkan istrinya, Khadijah r.a

Aku tahu, aku bukan Nabi Ibrahim AS
Aku pula tahu bahwa aku bukanlah Rasulullah SAW
Aku sadar, aku bukanlah Malaikat
Tapi, aku yakin Engkau juga menyayangi diriku, umat-Mu

Bukankah manusia diberikan cobaan hanya karena Kau sayang dengannya?
Bukankah Kau berikan ujian hanya untuk membuatku tersadar?
Bahwa Kau itu benar adanya, dan akan selalu ada?
Bahwa Kau ingin aku selalu mengingat diri-Mu?
Bahwa Kau akan selalu hidup dalam hatiku?
Bahwa Kau rindu dengan air mata dalam sujudku?




Love,
Sylvia

Dulu, Sekarang, Dan Selamanya

7:52 AM

Ketika bibir tak sanggup untuk berbicara
Ketika tangan tak sanggup untuk meraih
Ketika lisan tak sanggup untuk berucap
Maka saat itulah kelemahan menguasai dirimu

Aku berfikir semua telah usai
Yang lalu, biarlah menjadi yang lalu
Tapi,
Semua belum berhenti sampai di sini
Yang lalu, ternyata masih menjadi cerita hidupnya

Akankah aku harus berlari atau berhenti?
Aku sungguh tak mengerti akan kehidupan ini
Kadang aku merasa seperti sedang dipermainkan
Kadang aku merasa pula seperti sedang ditertawakan

Hidup memang tidak selalu seperti yang diinginkan
Aku pun tak hidup dalam dunia dongeng
Seorang putri cantik bertemu dengan pangeran pujaannya
Menikah dan hidup berbahagia
Tapi, aku mengerti, hidup bukanlah seperti itu
Hidup bukanlah soal hanya kebahagiaan
Hidup juga bukanlah soal mimpi indah

Lagi, untuk sekian kalinya Kau menamparku
Sekian kalinya Kau mencoba untuk menyentuhku
Tapi, kenapa harus dengan masalah yang sama?
Kau tahu betapa aku sangat tersiksa akan tamparan-Mu ini

10 tahun aku mencoba melupakan semuanya
10 tahun aku kubur dalam-dalam memori itu
Menyakitkan, tersiksa, dan hitamnya hidup ini
Pedih, luka, sampai aku tak bisa bernafas

Bolehkah hari ini aku mengeluh pada-Mu  ya Allah?
Engkau Maha Baik, Engkau Penolong setiap umat-Mu
Mengapa Kau tidak membiarkan aku untuk berbahagia?
Mengapa Kau suka sekali menghukum diriku?

Apakah Engkau ingin mengajarkanku tentang arti kesabaran?
10 tahun aku berusaha ikhlas dan sabar menghadapi ujian-Mu
Apakah itu belum cukup bagi-Mu ya Allah?

Jika ya, bantu aku untuk mencukupkannya ya Allah
Bantu aku untuk selalu bersyukur
Bantu aku untuk selalu bisa membuka mataku
Bahwa Kau tidak pernah meninggalkan diriku
Bahwa Kau akan selalu menyayangiku
Bahwa Kau datangkan ini hanya untuk melihat-Ku semakin bertaqwa pada-Mu




Love,
Sylvia

Kisah Nabi Syits AS : Asal Muasal Musik & Zina

5:32 AM

Nabi Syits AS adalah anak pemberian dari Allah SWT untuk Nabi Adam AS, sebagai hadiah setelah meninggal putra tercintanya yaitu Habil. Habil adalah seorang hamba-Nya yang sangat sholeh dan oleh karenya Habil sangat dekat dengan ayahnya, Nabi Adam AS. Nabi Adam AS sendiri memberi nama Syits yang berarti Hadiah, karena dia adalah hadiah pemberian dari Allah SWT sebagai pengganti Habil.

Nabi Syits AS pun sama seperti Habil, Beliau sangat dekat dengan-Nya. Beliau selalu menuruti perintah-perintah Allah SWT, seperti ayahnya. Semasa hidupnya, Nabi Syits AS selalu meingatkan saudara-saudaranya, keponakan-keponakannya, dan orang-orang di awal zaman tersebut untuk selalu menyembah hanya kepada Allah SWT. Dan Nabi Syits AS, selepas kepergian ayahnya, menjadi pemimpin yang adil bagi saudara-saudaranya. Membawa ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Tetapi, syaitan selalu saja berusaha untuk menggoda keimanannya. Di sisi lain, hiduplah saudaranya/anak Nabi Adam AS yang bernama Qabil. Qabil beserta keturunannya tidak mau mengikuti ketentuan-ketentuan yang disebutkan oleh Nabi Syit AS. Akhirnya, karena melihat saudaranya tersebut sangat sombong dan serakah, Nabi Adam AS pun pergi jauh dan hanya tinggal dan hidup bersama Nabi Syit AS beserta keturunan-keturunannya. 

Terdapat perbedaan yang sangat jelas diantara Nabi Syit AS beserta keturunannya dengan Qabil dan keturunan-keturunannya.


Para pria dari keturunan Qabil memiliki wajah yang jelek dan para wanitanya memiliki paras wajah yang cantik. 

Kemudian diriwayatkan atau dikisahkan : suatu hari iblis merubah dirinya menjadi seorang lelaki muda. Dan kemudian pergi ke pandai besi untuk meminta pekerjaan kepada pandai besi tersebut. Lantas, apa yang iblis lakukan kemudian?
Dia bekerja dengannya dan kemudian menciptakan sebuah seruling. Dan kemudian dia memperkenalkan seruling tersebut kepada orang-orang. Perlahan, dia membuat suara, suara yang belum pernah didengar oleh orang-orang sebelumnya, yang saat itu adalah awal zaman. Tidak ada suara, tidak ada apapun, kecuali keimanan kepada Allah SWT. Dan kemudian dia menciptakan sebuah drum kecil dan menabuhnya. 

"Suara apa itu?"

Lalu iblis meraih sebuah logam dan mulai menabuhnya. Maka terbentuklah suatu suara. Tentu saja, ini membuat orang-orang berdatangan. Iblis kemudian menciptakan terompet dan meniupnya. Dan terbentuklah suara yang menyebabkan orang-orang kembali berdatangan. 

"Orang ini begitu pintar. Dia lebih maju daripada kita."

Orang-orang pun begitu asyik menikmati suara tersebut, dan mereka perlahan mulai melupakan perintah-perintah Allah SWT. Namun, hal ini tidak menggoyahkan keimanan Nabi Syit AS sedikitpun. Nabi Syits AS tetap istiqhomah dalam meingatkan umatnya dan tetap memberitahukan umatnya, mana yang benar dan mana yang salah. 

Tetapi, dikisahkan bahwa Iblis itu pintar. Dia membuat seruling dan menciptakan suara dengan tujuan agar jiwa orang-orang tersebut masuk ke dalam musik tersebut. Sampai akhirnya, setiap bagian tubuh kita bereaksi terhadap suara tersebut. Orang-orang pun sangat menyukai dan terlena akan suara-suara yang dikeluarkannya tersebut.

"Di sana ada yang bisa mengeluarkan suara."
"Suara-suaranya luar biasa."

Pada zaman itu, orang-orang belum mengenal dosa Syirik. Mereka masih menyembah kepada Allah SWT. Tetapi kemudian, iblis membawa manusia ke level berikutnya. Iblis itu pintar. Selain sudah menjerumuskan manusia dengan suara, lalu iblis pun memperkenalkan yang namanya "Zina", yang mungkin sampai detik ini masih dilakukan oleh manusia.

Oleh karenanya Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168-169:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (169)
Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” 
(QS. Al-Baqarah: 168-169)



"Mereka akan tahu trik saya. Maka, saya akan memperkenalkan pada mereka sesuatu yang akan menggerakkan mereka."

Jadi, iblis memperkenalkan musik dan zina pada zaman itu. Iblis telah membawa mereka pada langkah itu. Sesungguhnya, alat musik dan zina telah diperkenalkan ketika pada masa kepemimpinan Nabi Syits AS, berabad-abad tahun yang lalu. Akan tetapi, Nabi Syits AS terus memerintahkan, melarang, dan memberi nasehat kepada orang-orang.

Hingga kini, para ulama meyakini bahwa kebanyakan nabi-nabi atau utusan-utusan Allah SWT berasal dari keturunannya. Semua mengatakan semua nabi berasal dari keturunannya. Tidak ada yang datang setelah itu dari Qabil.

Tidak ada nabi/rasul yang datang dari keturunan Qabil.

Setelah masa kepemimpinan Nabi Syits AS, Nabi Syits AS kemudian mempercayakan kepada anak-anaknya yang shaleh untuk melanjutkan misi dari Allah SWT. Dan akhirnya sampailah pada Nabi Idris AS.

Kisah dari Nabi Syits AS ini mengingatkan kita bahwa kita sebagai manusia sangat mudah untuk mengikuti langkah iblis/syaitan yang sesungguhnya sudah sangat jelas dilarang oleh Allah SWT. Musik dan Zina. Oleh karenanya, kita harus selalu senantiasa berdo'a meminta perlindungan dari Allah SWT agar dapat dijauhkan dari langkah-langkah syaitan tersebut.
Aamiin Ya Rabbal Alamiin...

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 200 :

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.” 
(QS. Al-A’raf: 200)
Ada suatu hadits yang mengatakan :
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى
Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, dari kejelekan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelekan pada mani atau kemaluanku)"
(HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)





Love,
Sylvia


Unforgettable Moments : When Prayers Met Tears In Saudi

9:18 PM

Masjidil Haram, Mecca, Saudi Arabia
"The most beautiful place that I've ever been"

                        





Al-Rawdah Mosque, Al-Masjid An-Nabawi, Madinah, Saudi Arabia
Al-Rawdah Mosque is hold the tomb of Prophet Muhammad SAW and two of his companions and first Caliphs, Abu Bakr r.a and Umar ibn al-Khattab r.a. The site is covered by the Green Dome.Umar was given a spot next to Prophet Muhammad SAW by Aisha, which had originally been intended for her. An empty place beside the tomb of Prophet Muhammad SAW was reserved for Isa AS.



Jabal Ar-Rahmah
A place where Adam AS met Siti Hawa for the first time.  In fact, there are monuments that signify romance both. Jabal Rahmah also a place for the historic journey of the Prophet Muhammad SAW that he received the final revelation of God, as well as a complement of the teachings of Islam. People believe, if praying for a mate in Jabal Rahmah quickly granted the request. 



 Onta farm, Hudaibiyah, Saudi Arabia
In this place, you can buy camel milk (susu unta). Many believe if  this milk is the most preferred drink of our Prophet, Prophet Muhammad SAW.



Madinah, Saudi Arabia




Al-Rahma Mosque, Floating Mosque, Jeddah, Saudi Arabia
the Floating Mosque as it is famously known, officialy named Al-Rahma Mosque, but called Fatima al Zahra Mosque by its citizens. Constructed on the coast of the Red Sea.




Perkebunan Kurma, Madinah, Saudi Arabia
It's located approximately 5 kilometers from Madinah, east of Quba Mosque. We can see a palm plantation which has a total area of about 25 hectares. The garden even believed existed before Prophet Muhammad SAW fled t Medina from Mecca. Quba Mosque is the first Mosque to be built by Prophet Muhammad SAW.



  Alhamdulillah Ya Allah, Alhamdulillah.
Hope me and my family can go back to Your place again later.
Aamiin Ya Rabbal Alamin..





Love,
Sylvia


Kisah Ashabul Ukhdud : Orang Beriman Dibakar Hidup-hidup dalam Parit

2:01 AM

Alhasil, dikisahkan adanya orang-orang yang membakar orang beriman dalam parit. Orang-orang beriman ini tetap teguh pada keimanan dan keyakinannya kepada Allah SWT, sehingga raja di masa itu marah dan kemudian membakar mereka hidup-hidup. Kisah ini dikenal dengan kisah "Ashabul Ukhdud". Suatu kaum yang dilaknat oleh Allah SWT. Dan kisah ini tertuang dalam Al-Qur'an.

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

 (QS. Al Buruj:4-9)

Kisah ini kemudian diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.
Dahulu hiduplah seorang Raja kafir dari golongan umat sebelum kalian. Ia mempunyai seorang tukang sihir. Tukang sihir itu pun meminta agar dikirimkan anak yang akan jadi pewaris ilmu sihirnya kepada Raja tersebut. Maka, seorang anak diutas padanya. Tukang sihir pun mengajari anak tersebut. Anak tersebut kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda dan tinggal pada suatu kampung yang berbeda dengan tempat tukang sihir itu berada.

Di tengah perjalanan antara kampung dan tempat tukang sihir berada, tinggallah seorang Rahib yang beriman kepada Allah SWT. Ia hidup mengasingkan diri dari masyarakat yang telah rusak agamanya karena menjadikan raja mereka sebagai sesembahan.

Setiap kali pemuda tersebut melewati tempat rahib ini, ia tertarik mendengar ajaran-ajaran yang dianut rahib tersebut. Ia pun kemudian mempelajari dua ilmu yang tidak akan bersatu, ilmu sihir dan ilmu agama.

Suatu hari, pemuda tersebut melihat binatang besar yang menghalangi perjalanan manusia. Maka, pemuda tersebut ingin meguji : Manakah ajaran yang lebih utama, ajaran rahib atau tukang sihir?

Berdo'alah pemuda tersebut kepada Allah SWT.
"Ya Allah, jika engkau lebih mencintai apa yang dibawa oleh rahib daripada apa yang dibawa oleh tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini, supaya manusia bebas dari  gangguannya."

Ia kemudian melempar binatang tersebut dengan batu, sehingga binatang itu mati seketika. Pemuda itu kemudian yakin tentang keutamaan dan kebenaran ajaran sang rahib. Dia kemudian mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib pun berkata :

"Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya, engkau akan mendapatkan cobaan. Maka, jika benar demikian, janganlah menyebut namaku."

Waktu terus berlalu. Si pemuda menjadi orang terkenal yang mahir mengobati orang yang buta, sakit belang, dan berbagai penyakit lainnya. Suatu ketika, datang seorang pejabat yang sangat dekat dengan raja. Dengan membawa banyak hadiah, dia minta agar dapat disembuhkan kebutaannya.

"Hadiah-hadiah yang aku bawa ini kuberikan kepadamu jika engkau dapat menyembuhkanku."
"Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun. Allah lah yang menyembuhkan. Apabila engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya agar menyembuhkan dirimu"

Kemudian pejabat itu beriman kepada Allah SWT dan Allah SWT menyembuhkan sakitnya. Pejabat kemudian pulang ke rumah dan bertemu raja. Raja begitu kaget melihat dirinya telah sembuh.

"Siapakah yang menyembuhkan penglihatanmu?"
"Rabbku."
"Apakah kamu mempunyai Rabb selain aku?
"Rabbku dan Rabbmu adalah Allah SWT."

Seketika itu pula ia disiksa dan terus disiksa sampai akhirnya ia menunjukkan keberadaan si pemuda yang terkenal tersebut. Pemuda tersebut ditangkap dan dihadapkan kepada Raja.

"Wahai anakku, sungguh sihirmu telah mencapai tingkatan untuk dapat menyembuhkan berbagai penyakit."
"Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun. Allah-lah yang menyembuhkan."

Pemuda itu kemudian disiksa dan akhirnya pemuda menunjukkan keberadaan sang rahib. Sang rahib kemudian ditangkap dan dipaksa untuk kembali ke agama sang raja.

Sang rahib menolak dan memilih tetap berada di agama Allah SWT. Maka, sang raja membunuh rahib dengan cara yang keji. Sang raja menggergajinya sehingga terbelah  menjadi 2 bagian. Tidak berbeda pula dengan nasib sang penjabat, ia pun dibunuh dengan digergaji menjadi 2 bagian juga.

Kemudian giliran si pemuda. "Kembalikan pada ajaranmu."

Ia enggan. Kemudian pemuda itu diserahkan ke pasukan raja.
"Pergilah kalian bersama pemuda ini ke gunung ini dan itu. Lalu, dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya, lalu ia mau kembali pada ajaranku, maka bebaskan dia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.” 

Lantas pasukan raja tersebut pergi bersama pemuda itu lalu mendaki gunung. 
Lalu pemuda ini berdo’a, “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” 

Gunung pun lantas berguncang dan semua pasukan raja akhirnya jatuh. Lantas pemuda itu kembali berjalan menuju raja.

“Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?” 
“Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.” 

Lalu pemuda ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja memerintahkan pada pasukannya.

"Pergilah kalian bersama pemuda ini dalam sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajaranku, maka bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkanlah dia.” 

Mereka pun lantas pergi bersama pemuda ini. Lalu pemuda ini pun berdo’a. “Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” 

Tiba-tiba sampan tersebut terbalik, lalu pasukan raja tenggelam. Pemuda tersebut kembali berjalan mendatangi raja. 

“Apa yang dilakukan teman-temanmu tadi?”
“Allah Ta’ala telah mencukupi dari tindakan mereka.” 

Dengan penuh pertimbangan, akhirnya si pemuda memberitahukan kepada raja cara membunuh dirinya, ia berkata kepada raja, 

“Engkau tidak akan bisa membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan. Kumpulkan manusia dalam satu tempat yang luas, saliblah aku pada batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tempat anak panahku, kemudian katakanlah ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb anak ini’ dan panahlah aku dengannya.” 

Sang raja pun melakukan perintah si pemuda. Ia menginginkan untuk segera menghabisinya. Raja tidak mengetahui rencana Allah yang Maha Mengetahui. Dikumpulkanlah manusia pada suatu tempat, ia ambil anak panah dari tempat anak panah si pemuda, kemudian ia panah si pemuda sembari mengatakan, “Dengan menyebut Nama Allah, Rabb anak ini.” 

Anak panah melesat tepat mengenai pelipis si pemuda. Dengan izin Allah matilah pemuda itu di tangan raja. Namun tanpa diduga oleh raja, rakyat yang menyaksikan peristiwa ini pun serta merta beriman kepada Allah. Mereka mengatakan, 

"Kami beriman dengan Rabb anak ini, kami beriman dengan Rabb anak ini."

Seorang penasihat berbisik kepada raja: “Lihatlah, apa yang tuan khawatirkan kini benar-benar terjadi. Orang-orang telah beriman semuanya (kepada Allah, Rabb-nya si anak muda)!” 

Setelah itu raja memerintah agar dibuat parit di sekeliling tanah lapang itu. Setelah parit digali, api dinyalakan. Raja berkata: “Siapa yang tidak mau kembali dari agamanya (kepada agama aku), maka lemparkanlah dia kedalam (parit yang dinyalakan api)!” Atau dikatakan: “Terjunlah ke dalamnya!” 

Maka mereka semua (yang beriman kepada Allah SWT) terjun ke dalam parit yang dinyalakan api tersebut. Tiba, giliran seorang ibu yang sedang menggendong bayi mungil. Wanita itu dipaksa untuk memilih antara dua pilihan. Ia masuk kedalam api tersebut dalam keadaan beriman kepada Allah SWT ataukah jiwanya selamat namun dia harus kembali kepada kekafiran. 

Demi melihat kobaran api yang menyala, timbul dari dalam dirinya keraguan dan rasa takut untuk tetap berada dalam keimanan. Ia tidak tega melihat keadaan anaknya yang dalam gendongannya. Apakah jiwa yang masih suci ini harus mati bersamanya. 

Allah SWT pun memberikan kemampuan kepada bayi tersebut untuk berbicara. 
”Wahai ibuku! Bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran”."
(HR Muslim No. 3005)

Tatkala mendengar perkataan bayi tersebut, bulatlah tekad sang ibu untuk masuk ke dalam kobaran api mempertahankan keimanannya.”

Allah SWT berfirman, “Sungguh dalam kisah mereka ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal, bukanlah (Al Qur’an ini) sebagai ucapan yang diada-adakan, tetapi ia membenarkan (kitab-kitab) yang terdahulu dan sebagai penjelas atas segala sesuatu petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.”

Kisah ini mengajarkan kita, terutama saya, bahwa hati kita ada di tangan Allah SWT. Allah SWT sesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan petunjuk pada siapa pun yang Dia kehendaki, layaknya si Pemuda tersebut. Allah SWT pun selalu memenangkan kebenaran dan menolong orang-orang yang selalu bersabar dan berpegang teguh pada kebenaran dan jalan-Nya. Semoga kita tergolong menjadi hamba-hamba-Nya selalu bersabar, yang akan selalu diberikan petunjuk oleh-Nya dan akan selalu berpegang teguh pada kebenaran, ajaran, dan jalan-Nya.
Aamiin Ya Rabbal Alamin...




Love,
Sylvia

Kisah Nabi Luth AS ; Kaum Sadum (Kaum Sodom)

12:23 AM

Nabi Luth AS, adalah salah satu nabi yang diutus untuk negeri Sadum dan Gomorrah. Nabi Luth adalah anak keponakan dari Nabi Ibraham AS. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Ia ditugaskan berdakwah kepada Kaum yang hidup di negeri Sadum, Syam, Palestina.

Allah SWT berfirman dalam surah QS. Asy-Syu'ara, 

  كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ
Kaum Luth telah mendustakan para rasul,
(QS. Asy-Syu'ara : 160)

 إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلا تَتَّقُونَ
ketika saudara mereka Luth berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?"
(QS. Asy-Syu'ara : 161)

 إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ 
Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
(QS. Asy-Syu'ara : 162)

 فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
(QS. Asy-Syu'ara : 163)

 وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ 
الْعَالَمِينَ
Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.
(QS. Asy-Syu'ara : 164)

Masyarakat Sadum atau Sodom adalah masyarakat yang rendah moral dan rusak akhlaknya. Mereka tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Maksiat, kemungkaran, pencurian, dan perampasan harta merajalela dalam pergaulan hidup mereka. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseksual atau liwath di kalangan lelaki dan lesbian di kalangan wanita. Musafir yang datang pun tidak selamat dari gangguan mereka. Jika ia membawa barang berharga, maka dirampaslah barangnya tersebut. Jika ia melawan, maka nyawa menjadi taruhannya. Akan tetapi, jika pendatang itu adalah seorang lelaki berwajah tampan dan berparas elok, maka ia akan menjadi rebutan di kalangan laki-laki dari mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan begitu pula sebaliknya.

Nabi Luth AS kemudian diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada kaumnya. Beliau mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah SWT yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan melarang mereka untuk melakukan kejahatan dan kekejian. Namun, dakwahnya malah dilawan dengan hati yang keras dan jiwa yang sakit serta penolakan yang berasal dari kesombongan.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Naml ayat 54-55:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ
"Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) padahal kamu melihatnya (kekejian perbuatan maksiat itu)?"
(QS. An-Naml : 54)

 أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
"Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat(mu), bukan (mendatangi) perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).”
(QS. An-Naml : 55)

Namun, bukannya menyembah kepada Allah SWT, kaum Luth justru mengatakan, "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang (mendakwahkan dirinya) bersih." (QS. An-Naml : 56). 

Tindakan kaum Nabi Luth membuat hati beliau bersedih. mereka melakukan kejahatan secara terang-terangan di tempat-tempat mereka. Nabi Luth AS memerangi mereka dalam jihad yang besar. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun Nabi Luth AS terus berdakwah. Namun, tak seorang pun yang mengikutinya dan tiada yang beriman kepadanya kecuali keluarganya, kecuali Isteri Nabi Luth AS yang kafir seperti Istri Nabi Nuh AS.

       "Allah SWT membuat Istri Nuh dan Istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): 'Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka."
 (QS. at-Tahrim: 10)

Kehidupan Nabi Luth AS dipenuhi dengan penderitaan yang keras, namun Beliau tetap sabar atas kaumnya. Sampai akhirnya, mereka, kaum Luth mengejek ajarannya dan mengatakan :

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

"Apakah kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?. Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'"
(QS. Al-Ankabut : 29)

Ketika terjadi hal tersebut, Nabi Luth AS berputus asa kepada mereka dan ia berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ
Luth berdoa : “Ya Tuhanku tolonglah aku dengan menimpakan azab atas kaum yang berbuat kerusakan itu” 
(QS. Al-Ankabut : 30)

Permohonan Nabi Luth dan doanya diperkenankan dan dikabulkan oleh Allah SWT. Allah SW mengutus beberapa Malaikat untuk menurunkan azab terhadap kaum Nabi Luth AS yang durhaka dan meningkari Allah. Ketika datang kabar kepada Nabi Ibrahim AS akan dibinasakannya negeri Nabi Luth AS dengan kaumnya, karena penduduknya yang selalu durhaka dan maksiat, maka terperanjatlah Nabi Ibrahim AS. 

Firman Allah dalam Al Qur’an :
قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا ۚ قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا ۖ لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
Berrkatalah Ibrahim : “Sesungguhnya di kota itu ada Luth”
Para malaikat berkata : “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia, dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)” 
(QS. Al-Ankabut : 32)

Akhirnya, para malaikat keluar dari tempat Nabi Ibrahim AS menuju desa Nabi Luth AS. Sementara itu, anak perempuan Nabi Luth AS berdiri sedang memenuhi tempat airnya dari air sungai itu. Ia mengangkat wajahnya sehingga menyaksikan mereka. Ia tampak keheranan melihat kaum pria yang memiliki ketampanan yang mengagumkan. Salah seorang malaikat bertanya kepada anak kecil itu: 

"Wahai anak perempuan, apakah ada rumah di sini?"
"Hendaklah kalian tetap di situ sehingga aku memberitahu ayahku dan kemudian akan kembali pada kalian."

Kemudian, sang anak pun berkata kepada Nabi Luth AS, "Ayahku, ada pemuda-pemuda yang ingin menemuimu di pintu kota. Aku belum pernah melihat wajah-wajah seperti mereka," 

Nabi Luth AS segera berlari menuju tamu-tamunya. Ketika Nabi Luth AS melihat mereka, beliau merasakan keheranan yang luar biasa. Beliau berkata: "Ini adalah hari yang dahsyat." Beliau bertanya kepada mereka: "Dari mana mereka datang dan apa tujuan mereka?" Mereka malah terdiam dan justru memintanya untuk menjamu mereka." Nabi Luth AS tampak malu di hadapan mereka, kemudian beliau berjalan di depan mereka sedikit lalu beliau berhenti sambil menoleh kepada mereka dan berkata: 

"Saya belum mengetahui kaum yang lebih keji di muka bumi ini selain penduduk negeri ini."

Beliau mengatakan demikian dengan maksud agar mereka mengurungkan niat mereka untuk bermalam di negerinya. Namun mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Luth AS dan mereka tidak memberikan komentar atasnya.

Nabi Luth AS kembali berjalan bersama mereka dan beliau selalu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan tentang kaumnya. Nabi Luth AS memberitahu mereka bahwa penduduk desanya sangat jahat dan menghinakan tamu-tamu mereka. Pemberitahuan tersebut dimaksudkan agar para tamunya membatalkan niat mereka untuk bermalam di desanya tanpa harus melukai perasaan mereka dan tanpa menghilangkan penghormatan pada tamu. Nabi Luth AS berusaha dan mengisyaratkan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanannya tanpa harus mampir di negerinya. Namun tamu-tamu itu tetap berjalan dalam keadaan diam. Kegelapan mulai menyelimuti kota. Nabi Luth AS menemani tiga tamunya itu berjalan menuju rumahnya. Tak seorang pun dari penduduk kota yang melihat mereka. 

Namun istrinya melihat mereka sehingga ia keluar menuju kaumnya dan memberitahu mereka kejadian yang dilihatnya. Kemudian tersebarlah berita dengan begitu cepat dan selanjutnya kaum Nabi Luth AS menemuinya. Allah SWT kemudian berfirman:

"Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergesa-gesa. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." 
(QS. Hud: 77-78)

Mulailah terjadi hari yang sangat keras. Kaum Nabi Luth bergegas menuju padanya. Nabi Luth AS bertanya pada dirinya sendiri: "Siapa gerangan yang memberitahu mereka?" Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari istrinya namun ia tidak menemuinya. Maka bertambahlah kesedihan Nabi Luth AS.

Kaum Nabi Luth AS berdiri di depan pintu rumah. Nabi Luth AS keluar kepada mereka dengan penuh harap. 

"Dia berkata: 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeriku) mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal." 
(QS. Hud: 78)

"Dan janganlah kalian mencemarkan namaku terhadap tamuku ini."

"Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Tidakkah di antara kalian terdapat orang yang mempunyai pikiran yang sehat? Tidakkah di antara kalian terdapat laki-laki yang berakal? Apa yang kalian inginkan jika memang terwujud, maka itu hakikat kegilaan. Akal adalah sarana yang tepat bagi kalian untuk mengetahui kebenaran. Sesungguhnya perkara tersebut sangat jelas kebenarannya jika kalian memperhatikan fitrah, agama, dan harga diri." 

Kaum Nabi Luth AS justru tertawa terbahak-bahak dan, 

"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.'" 
(QS. Hud: 79)

Nabi Luth AS merasakan kesedihan dan kelemahannya di tengah-tengah kaumnya. Dengan marah Nabi Luth AS memasuki rumahnya dan menutup pintu rumahnya. Ia berdiri mendengarkan tertawa dan celaan serta pukulan terhadap pintu rumahnya. Sementara itu, orang-orang asing yang dijamu oleh Nabi Luth AS tampak duduk dalam keadaan tenang dan terpaku. Nabi Luth AS merasakan keheranan dalam dirinya ketika melihat ketenangan mereka. Dan pukulan-pukulan yang ditujukan pada pintu semakin kencang. Mulailah kayu-kayu pintu itu tampak rusak dan lemah, lalu Nabi Luth AS berteriak dalam keadaan kesal:

قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ
"Luth berkata: 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)."
 (QS. Hud: 80)

Ketika penderitaan mencapai puncaknya dan Nabi Luth AS mengucapkan kata-katanya yang terbang laksana burung yang putus asa, para tamunya bergerak dan tiba-tiba bangkit. Mereka memberitahunya bahwa ia benar-benar akan terlindung di bawah benteng yang kuat:

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?"
(QS. Hud: 81)

Jangan berkeluh kesah wahai Luth dan jangan takut. Kami adalah para malaikat, dan kaum itu tidak akan mampu menyentuhmu.
Azab Allah SWT pun mulai diberikan. Malaikat-malaikat tersebut pun menyuruh Nabi Luth AS untuk membuka pintu rumahnya seluas mungkin agar dapat memberi kesempatan bagi kaumnya itu masuk. Namun sebaik sahaja pintu dibuka dan mereka masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka dan tidak dapat melihat sesuatu kerana mata mereka menjadi buta. Lalu, diusap-usap dan digosok-gosok mata mereka, ternyata mereka sudah menjadi buta.  Ya, Malaikat Jibril telah membutakan mata mereka, sebagaiaman Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an :

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ
Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
 (QS. al-Qamar: 37)

وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ
Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.
(QS. al-Qamar: 38)

Lantas, Malaikat memerintahkan  kepada Nabi Luth AS agar meninggalkan segera negeri itu bersama keluarganya, kecuali isterinya, kerana masanya telah tiba bagi azab Allah yang akan ditimpakan pada malam itu juga. Para malaikat berpesan kepada Nabi Luth AS dan keluarganya agar perjalanan ke luar kota jangan seorang pun dari mereka menoleh ke belakang.

Sewaktu fajar mula menyingsing, bergegar bumi dengan teramat dahsyatnya. Getaran itu mendahului suatu gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu sijjil (batu daripada api) yang menghancurkan dengan serta-merta kota Sadum berserta semua penghuninya. Lalu matilah mereka dan bertebaran mayat-mayat yang dilaknat oleh Allah S.W.T. Kesan dari bala Allah dapat dilihat hingga hari ani apabila penemuan sebahagian kaum nabi Lut yang telah dibinasakan oleh Allah keras menjadi batu.

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang lalim. " 
(QS. Hud: 82-83)

Para ulama berkata: "Jibril menghancurkan dengan ujung sayapnya tujuh kota mereka. Jibril mengangkat semuanya ke langit sehingga para malaikat mendengar suara ayam-ayam mereka dan gonggongan anjing mereka. Jibril membalikkan tujuh kota itu dan menumpahkannya ke bumi. Saat terjadi kehancuran, langit menghujani mereka dengan batu-batu dari neraka Jahim. Yaitu batu-batu yang keras dan kuat yang datang silih berganti. Neraka Jahim terus menghujani mereka sehingga kaum Nabi Luth musnah semuanya. Tiada seorang pun di sana. Semua kota-kota hancur dan ditelan bumi sehingga terpancarlah air dari bumi. Hancurlah kaum Nabi Luth dan hilanglah kota-kota mereka. Nabi Luth mendengar suara-suara yang mengerikan. Istrinya melihat sumber suara dan dia pun musnah."
Allah SWT berfirman tentang kota-kota Luth:
"Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. " 
(QS. Adz-Dzariyat: 35-37)

"Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak dijalan yang masih tetap (dilalui manusia)." 
(QS. Al-Hijr: 76)

"Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (behas-bekas) mereka di waktu pagi, dan diwaktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkannya." 
(QS. Ash-Shaffat: 137-138)

Maka, tamatlah riwayat kaum Nabi Luth AS dari bumi. Hal ini merupakan tanda bukti kekuasaan Allah SWT. Ada yang mengatakan bahwa kota-kota yang tujuh menjadi danau yang aneh di mana airnya asin dan deras airnya lebih besar dari derasnya air laut yang asin. Ada yang mengatakan bahwa danau yang sekarang bernama al-Bahrul Mayit, yang terletak di Palestina adalah kota-kota kaum Nabi Luth AS. 


Kisah Nabi Luth AS mengingatkan kita semua, termasuk saya, bahwa di bumi ini, tidak dikenal dengan yang namanya Homoseksual/Lesbian, yang kian marak pada masa saat ini. Ternyata, sebetulnya sudah jauh beberapa miliar tahun sebelumnya, homoseksual/lesbian tersebut sudah ada, yaitu pada masanya Nabi Luth AS. Sesungguhnya, homoseksual/lesbian sangat tidak diperbolehkan dalam agama Islam, bahkan dilaknat oleh Allah SWT. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an :

اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ.

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik"
(QS. An Nur:26)

Hal ini berarti sudah sangat jelas bahwa disebutkan wanita untuk lelaki, bukan wanita untuk wanita dan begitu sebaliknya, lelaki untuk wanita, bukan lelaki untuk lelaki. Semoga kita terhindar dan dijauhkan dari orang-orang yang melanggar ketentuan Allah SWT tersebut. Dan semoga kita terlindung dari kemaksiatan, sehingga tidak ditimpa azab yang begitu pedih seperti pada cerita Nabi Luth AS. 

Aamiin Ya Rabbal Alamin...




Love,
Sylvia


Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images