Kisah Uwais Al Qarni, Sang Penghuni Langit

10:03 PM

Diceritakan tentang seseorang yang tidak dikenal di bumi, namun terkenal di langit. Dia bernama Uwais Al Qarni, Sang Penghuni Langit. Uwais Al Qarni tinggal di Yaman. Uwais Al Qarni menderita penyakit sopak, penyakit yang menyebabkan tubuhnya belang-belang. Walaupun begitu, dia adalah pemuda yang shaleh dan sangat berbakti kepada Ibunya, seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais selalu memenuhi semua permintaan ibunya, kecuali satu yang sulit dikabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tidak akan lama lagi akan bersama dirimu. Ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan ibadah Haji."

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh dan harus melewati padang tandus yang panas. Uwais hidup dalam kemiskinan, tanpa kendaraan apapun. Lantas, bagaimana dia bisa memenuhi permintaan ibunya?

Kemudian, Uwais pun membeli seekor anak lembu. Uwais pun membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi Uwais menggendong anak lembu itu naik turun bukit bolak-balik.

"Uwais gila, Uwais gila..." orang-orang menganggap aneh dengan tingkah laku Uwais.

Makin hari anak lembu itu semakin besar, dan semakin besar pula tenaga yang diperlukan oleh Uwais untuk menggendongnya. Tetapi, karena latian setiap hari, anak lembu yang semakin membesar pun tak terasa berat lagi baginya.

8 bulan berlalu, tibalah pada musim haji. Lembu Uwais pun mencapai 100 kilogram, begitu pula dengan otot Uwais yang semakin kuat. Dan ternyata, latihan yang dilakukan oleh Uwais tiap hari itu adalah usaha latihannya untuk bisa menggendong ibunya.

Ya. Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah. 
Subhanallah...Begitu besarnya cinta Uwais pada sang ibu. Ia rela melakukan perjalanan yang jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya,

Syaikhul Jihad Abdullah Azzam: “Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” 

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka'Bah. Ibunya terharu dan menangis sewaktu melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, si anak pun berdoa.

"Ya Allah ampuni semua dosa ibu."
"Bagaimana dengan dosamu, Uwais?
"Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga."

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” 
(HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT pun memberikan karunia yang besar untuknya. Seketika, Uwais sembuh dari penyakit sopaknya. Yang tertinggal hanyalah bulatan putih ditengkuknya. Uwais dan ibunya pun kembali ke Yaman.

Setelah itu, Uwais berencana untuk bertemu dengan Rasulullah. Ia pun pergi ke Madinah untuk mencari rumah dari Rasulullah. Setelah ditemukannya rumah Rasulullah, diketuklah pintu rumah itu seraya mengucapkan salam. Namun, Uwais tidak dapat bertemu dengan Rasulullah karena beliau sedang berada di medang pertempuran. Uwais hanya bertemu dengan istrinya, Siti Aisyah, r.a. 

Uwais sangat kecewa. Dalam hati, Uwais ingin sekali menunggu kedatangan Rasulullah. Tapi, ia teringat akan pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan tersebut, agar Ia cepat pulang ke Yaman.
"Engkau harus lepas pulang nak."
Akhirnya, karena dia sangat taat kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Rasulullah. Dia kemudian hanya menitipkan salam untuk Rasulullah melalui Siti Aisyah r.a. 

Peperangan usai dan Rasulullah pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Rasulullah bertanya kepada Siti Aisyah r.a tentang orang yang mencarinya. Rasulullah mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada ibunya, dia adalah penghuni langit.

Mendengar itu, Siti Aisyah r.a dan para sahabat tertegun. Kemudian Siti Aisyah r.a mengatakan bahwa memang benar ada yang mencari Rasulullah dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga tidak dapat meninggalkan si ibu terlalu lama. 

Rasulullah kembali mengatakan:
"Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya."

Setelah itu, Rasulullah memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab dan berkata, 

"Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi."

Waktu terus berganti dan Rasulullah wafat. Kekhalifahan Abu Bakar telah digantikan oleh Umar bin Khaththab. Suatu ketika, Khalifah Umar teringat akan sabda Rasulullah tentang Uwais Al Qarni. Beliau kembali mengingatkan sabda tersebut kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti. Suatu ketika, Uwais turut bersama mereka. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan tentang Uwais Al Qarni. Uwais ternyata saat itu sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar hal itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi untuk berjumpa dengan Uwais.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Rasulullah tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Rasulullah. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Rasulullah. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, 

“Abdullah”. 
“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?”
 “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka.

“Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian, bukan kalian yang meminta do'a kepada saya”. 
“Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda, Uwais."

Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, 

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

MaShaAllah, Subhanallah, betapa luar biasanya hati dari Uwais Al Qarni. 
Begitu banyak orang yang ingin dirinya terkenal di bumi, tetapi Uwais Al Qarni memilih untuk tidak diketahui oleh orang-orang di bumi.

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Meninggalnya Uwais telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Berbondong-bondong orang menunggu untuk dapat memandikan jenazah dari Uwais, mengkafani jenazah dari Uwais, menusung jenazahnya, serta menggali kuburannya. 

"Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni?"
"Bukankah engkau hanya seorang fakir, yang tak memiliki siapa-siapa?"
"Bukankah dia hanyalah penggembala domba dan unta setiap harinya?

"Tapi, kenapa ketika dia wafat, penduduk Yaman gempar dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah yang begitu besar. Sepertinya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya?"

Ketika berita wafatnya Uwais Al Qarni tersebar kemana-mana, barulah penduduk Yaman mengetahui, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni tersebut. Selama ini tidak ada satu pun yang mengetahui siapa sebenarnya dia dikarenakan permintaannya sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib untuk merahasiakan dirinya. Barulah di hari wafatnya, mereka mengetahui sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah, bahwa Uwais Al Qarni adalah Penghuni Langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua.
Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya mengenai peranan kedua orang tua, Rasulullah pun bersabda,

"Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu."
(HR Ibnu Majah)

Mengenai berbakti kepada orang tua, Allah SWT pun berfirman dalam berbagai surah dalam Al-Qur'an, yaitu antara lain:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” 
(QS. Al-Isra : 23)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” 
(QS. Al-Isra : 24)

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” 
(QS. Maryam: 14)

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32)

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” 

(QS. Maryam: 30-32)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” 
(QS. An Nisa’: 36)

Semoga kisah Uwais Al Qarni dapat menyadarkan kita semua, termasuk saya pribadi, bahwa betapa pentingnya kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kita dalam berbakti kepada kedua orang tua kita, selama mereka masih hidup. Dan semoga kita dapat selalu membahagiakan kedua orang tua kita. 
Aamiin Ya Rabbal Alamiin..




Love,
Sylvia

Kisah Seorang Wanita Muda : Hidayah Datang Ketika Aku Sedang Bekerja

6:53 PM

Allah SWT Maha Sempurna Rahmat dan Kebaikan, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdo'a memohon hidayah kepada-Nya, yang mana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Fatihah;

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
"Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus."
(Q.S Al-Fatihah : 6)

Hidayah itu sendiri dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu :
  1. Hidayah Bayan, hidayah yang berupa keterangan atau petunjuk hidup, yaitu yang menjadi petunjuk hidup itu sendiri bagi seorang muslim adalah Al-Qur'an dan As Sunnah yang Shahih; dan
  2. Hidayah Taufiq, hidayah berupa keteguhan, hidayah yang merupakan hak prerogatif Allah SWT yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya.

Kali ini, aku akan menceritakan suatu kisah tentang kisah seorang perempuan muda yang besar di Ibukota Jakarta yang mendapatkan hidayah Taufiq dari Allah SWT.
Di suatu kisah, hiduplah seorang anak perempuan yang tumbuh dan besar di Jakarta. Dia bernama Safira Laras. Safira merupakan anak yang periang, ramah, serta pandai bergaul dengan yang lainnya, sehingga membuat teman-temannya nyaman berada di sekitarnya. Safira tumbuh menjadi gadis yang baik dan penurut. Apa pun yang dikatakan oleh orang tuanya, dia turutin. Dia pun tumbuh menjadi gadis yang rajin. 
Sewaktu sekolah, dia selalu mendapatkan peringkat kelas. Tetapi, kedua orang tuanya merasa itu semua kurang dan kurang. Tapi, Safira tetap bersabar dan selalu menunjukkan usaha nya yang keras untuk mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.
Sampai suatu ketika, dia pun masuk dunia perkuliahan. Dia pun kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Awal kuliah, dia masih menjadi gadis yang baik, penurut, dan tidak pernah macam-macam. Sampai suatu ketika, dia pun merasa usahanya sia-sia. Dia merasa dia selalu salah di mata kedua orang tuanya. Dia merasa dia tidak pernah bisa membuat orang tuanya bangga.
Dia pun kemudian mengalihkan semua masalah-masalah kehidupan, baik itu percintaan, keluarga, sampai dengan masalah kampus dengan berlari ke dunia gemerlap. Dia mencoba melakukan apa yang namanya "dugem" atau dunia gemerlap bersama teman-temannya. Dia selalu pulang larut malam, atau bahkan tidak pulang dan menginap di rumah temannya.
Hal itu terus berlanjut sampai dengan dia lulus dan masuk ke dunia kerja. 
Sampai suatu ketika, dia merasa:

"Aku capek. Apa yang aku lakukan tidak ada manfaatnya sama sekali. 
Bahkan bukan cuma tidak ada manfaatnya, Malah hanya mendatangkan mudharatnya saja."

Ketika dia lagi sering-seringnya pergi ke dunia gemerlap, rumahnya pun kacau. Orang tuanya ribut setiap saat, setiap detik, dan setiap waktu. Para lelaki yang dekat dengannya pun pergi satu per satu ke pelukan wanita lain.
Sampai pada akhirnya, dia pun memutuskan untuk memberhentikan kesehariannya yang tidak ada manfaatnya sama sekali itu. Dia merasa bencana dan musibah serta cobaan yang dia dapat dari Allah SWT adalah karena ulahnya sendiri. Dia merasa malu, jijik, dan menangis ketika mengingat dirinya sendiri itu.
Dia pun kemudian memperbaiki shalatnya, memperbaiki ibadahnya kepada Allah SWT. Perlahan demi perlahan, dia pun mulai memperbaiki sifat dan tingkah lakunya.
Dan dalam masa usaha dia untuk berubah, dia pun bertemu dengan seorang pria. Pria itu juga bisa membantu dirinya untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi. Tapi, justru hal itu malah membuatnya lebih mencintai pria itu ketimbang mencintai Allah SWT, Pencipta-Nya. Karena itulah, Allah SWT cemburu dengan pria tersebut, saking sayangnya Dia dengan Safira. Dia pun membuat Safira dan pria itu harus berpisah dengan cara yang tidak mengenakkan, karena lelaki itu bukanlah yang terbaik untuk dirinya.
Akan tetapi, Safira merasa bersyukur.
Safira merasa Allah SWT begitu baik dengan dirinya.
Bukan hanya perpisahan degan pria yang bukan jodohnya saja, tetapi Allah juga telah mengabulkan semua permohonan dirinya selama ini. Di pengujung tahun, kedua orang tuanya kembali harmonis, tidak ada kemarahan, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada pelemparan barang ini itu. Keluarganya kembali bahagia seperti sedia kala, sewaktu dia menjadi anak yang baik dan penurut tersebut.

Apakah ini berarti hidayah telah turun kepada Safira?
Jawabannya : belum.

Kejadiannya adalah awal tahun. Waktu itu, matahari sedang terik-teriknya. Safira pun sedang bekerja di kantornya seperti biasanya. Dia sedang mengetik di depan komputer lalu tiba-tiba sesuatu muncul di pikirannya.
Ya, sesuatu itu adalah Hijab/Kerudung. 
Memang, sebelum siang itu, jauh sebelum itu, Safira sudah berpikiran untuk memakai hijab dan menutup auratnya. Tetapi, apa daya? Dia merasa dia masih belum pantas menggunakan hijab tersebut. Dia merasa dosa-dosanya terlalu banyak sehingga hijab itu tidak pantas untuk dipakai olehnya.
Namun, siang itu, ketika dia sedang bekerja, mengetik dan mengetik, ketika Hijab terlintas dipikirannya, dia pun langsung yakin dan mantap.
"Besok dan seterusnya aku akan pakai Hijab"
Begitulah pikiran yang ada di benaknya siang itu. Dan akhirnya pun, besoknya benar adanya. Penampilan Safira berubah drastis. Safira yang tadinya selalu menggunakan rok ke kantor, yang selalu menggerai rambutnya, kini berubah menjadi sosok wanita yang tertutup dengan Hijabnya tersebut. Teman-temannya pun terkejut melihatnya, seakan tidak percaya kalau Safira telah mengganti penampilannya tersebut.
"Ada angin apa kamu pakai kerudung?"
"Subhanallah Safira, sekarang berkerudung? Cantik."
"Wow berkerudung? Perasaan kemarin baru posting foto pakai bikini doang, baru posting di tempat malam, tapi sekarang berkerudung?"
"Alhamdulillah berkerudung. Tapi, saran ya Fir, kalau bisa jangan langsung tertutup gitu. Dimulai dari pakai baju panjang-panjang aja dulu. Takutnya kan nanti kamu lepas lagi."
Ya, bahkan ada yang menyangka dirinya akan melepas hijabnya itu suatu saat. Sungguh sangat menyedihkan. Sedih sekali hati Safira sewaktu mendengar omongan itu. 
".....Apakah aku sehina itu di mata dirinya? Aku tahu, aku banyak melakukan kesalahan, tapi aku ingin berubah. Apakah tidak boleh jika aku berubah jadi lebih baik?"
Di awal-awal Safira memutuskan hijrah, itu merupakan hal yang tidak gampang. Ada yang berpandangan negatiflah kepada dirinya. 
Jangan-jangan kamu pakai karena perempuan itu juga pakai hijab?"
Ini adalah perkataan yang sangat menyedihkan dan memilukan bagi Safira. Dia disangka mengikuti perempuan yang merupakan jodoh lelaki yang meninggalkan dirinya itu. Padahal, tidak ada sama sekali terlintas dalam pikirannya untuk mengikuti wanita itu. 
Memang, terkadang untuk berubah, membutuhkan suatu proses. Membutuhkan suatu perjuangan. Tapi, semua dihadapi oleh Safira dengan senyuman.
Jika ada yang bertanya, "Pakai Hijab nih sekarang? Sampai kapan? Seterusnya kah?
Maka, dengan senyuman di bibirnya, dia akan menjawab : 

"InShaa Allah, doain ya supaya aku bisa Istiqhomah selalu."

Dan sampai sekarang Safira pun tetap menggunakan Hijab kebanggaan dirinya. Safira merasa Hijab nya itu merubah segala kehidupannya. Safira merasa hidupnya kini lebih berarti, lebih berwarna, dan lebih tenteram. Dulu mungkin hatinya penuh kehampaan, penuh kegelisahan dan penuh kekhawatiran, tapi sekarang dia merasa damai. Dia seakan-akan telah menemukan kedamaian dalam Hijabnya tersebut. Dia pun lebih dihormati oleh kaum Adam. Dia tidak lagi mendapatkan lecehan sana-sini, tapi yang dia dapat adalah senyuman dan ucapan : "Asalammualaikum.."

Dia sangat beruntung karena Allah SWT telah memberikan hidayah yang luar biasa sebelum ajal menjemputnya. Bayangkan, jika Allah SWT tidak memberinya hidayah tersebut dan lalu dia keduluan dijemput oleh Malaikat Izrail, Malaikat Pencabut Nyawa? Dia pun tidak sempat untuk bertaubat, memohon ampunan dari-Nya? Astaghfirullah, Nauzubillahminzhalik. 
Jangan sampai kita menjadi manusia menyesal di kemudian hari. 
Menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini untuk ingkar dan lalai kepada-Nya. Di alam sana, betapa banyaknya manusia yang ingin dihidupkan kembali hanya agar dapat bertaubat dan memohon ampunan dan belas kasih Allah SWT, karena semasa hidupnya telah menyia-nyiakan waktu berharganya tersebut.

Subhanallah, betapa cintanya Allah SWT kepada umat-Nya. Dia telah memberikan hidayah-Nya yang luar biasa dalam diri Safira. Hingga kini, Safira masih terus berharap dan berdo'a kepada Allah SWT agar hatinya tetap diteguhkan dalam Iman dan Islam, agar dia selalu mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kedamaian dalam hatinya. Aamiin Ya Rabbal Alamin..


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi 'Ala Diinik
Artinya: Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.
(HR. Ahmad dan at Tirmidzi)


Jadi, sahabat-sahabat sholeh dan sholihahku, hidayah bisa datang kapan pun dan kepada siapa pun yang dikehendaki oleh-Nya. Bagi kita yang mendapatkan hidayah dari-Nya, bersyukurlah. Karena sesungguhnya tidak semua orang muslim bisa mendapatkan hidayah tersebut. Bahkan, ada yang sangat berharap untuk mendapatkan hidayah-Nya, tetapi tidak kunjung juga dia dapatkan. 

Kisah Safira membuat kita tersadar bahwa Allah SWT itu sangat baik dan Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Dia akan memaafkan dan mengampuni semua dosa-dosa umat-Nya, meski dosanya sebesar lautan. Jangan pernah patah semangat dan lelah dalam berdo'a kepada-Nya. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana Allah SWT mengampuni dosa kita dan mengabulkan setiap do'a yang kita panjatkan kepada-Nya. Semoga kita akan selalu menjadi umat muslim yang selalu istiqhomah dalam mencari kebenaran dan kedamaian hati kita. Aamiin Ya Rabbal Alamin...

Semoga kisah Safira ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi siapa pun yang membacanya.

(Jika terdapat kesamaan nama/atau apapun itu, itu hanyalah kebetulan semata. Penulis sama sekali tidak ada niatan apa pun.)



love,
Sylvia


Kisah Mabrurnya Pahala Haji Seorang Tukang Sol Sepatu Yang Batal Berhaji

11:05 PM

Dikisahkan oleh seorang ulama' masyhur di Makkah, Abu 'Abdurrahman Abdullah ibn al Mubarak al Hanzhali al Marwazi (Ibnul Mubarak). Suatu ketika, setelah selesai menjalani ritual ibadah haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua Malaikat yang turun dari langit, dan mendengar percakapan keduanya.

"Berapa orang yang datang tahun ini (untuk haji) ?" tanya satu malaikat kepada malaikat lainnya.
"Tujuh ratus ribu jama'ah" jawab Malaikat yang satunya.
"Berapa banyak dari mereka yang diterima ibadah hajinya?"
"Tidak satupun"

Percakapan itu membuat sang Abdullah al Mubarak bergemetar.

Beliau menangis dalam mimpinya. "Semua orang - orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?"

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar percakapan kedua malaikat itu.

"Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, akan tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia, seluruh ibadah haji mereka diterima oleh Allah"
"Kenapa bisa begitu ?"
"Itu kehendak Allah"
"Siapa orang tersebut ?"
"Sa'id ibn Muhafah tukang sol sepatu di Kota Dimasyq (Damaskus)"

Mendengar ucapan itu, Abdullah al Mubarak itupun langsung terbangun dari tidurnya. Sepulang haji, Beliau langsung menuju kota Damaskus, Syiria. Hatinya bergetar.

Sesampai beliau di kota Damaskus, Beliau langsung mencari sang tukang sol yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ia tanya, apakah ada tukang sol sepatu yang bernama Sa'id ibn Muhafah.

"Ada, di tepi kota" jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjuk arahnya.

Sampai disana, Beliau melihat seorang tukang sol sepatu yang berpakaian amat lusuh, "Benarkah anda bernama Sa'id ibn Muhafah ?" tanya ibn al Mubarak.

"Betul, siapakah tuan ?"
"Aku adalah Abdullah ibn al Mubarak"

Sa'id pun terharu, "Tuan adalah Ulama' terkenal, ada apa gerangan mendatangi saya?"

Sejenak, Ulama' itupun kebingungan, bagaimana ia akan memulai pertanyaanya. Akhirnya Beliau pun menceritakan perihal mimpinya.

"Saya hendak tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, dan membuat mabrur ibadah haji para jama'ah yang lain ?"

"Wah saya sendiri tidak tahu"

"Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini"

Maka Sa’id ibn Muhafah pun bercerita, 

"Setiap tahun, setiap musim haji, saya selalu mendengar suara talbiyah: 'Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika laa syariika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syariika laka' dan, setiap kali aku mendengar talbiyah itu, saya selalu menangis "ya Allah aku rindu Makkah. ya Allah aku merindu Ka'bah. Ijinkan aku datang, ijinkan aku datang ya Allah" 
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu. Setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan, hingga akhirnya pada tahun ini, saya memiliki 350 dirham, cukup untuk saya berhaji, saya sudah siap berhaji"

"Tapi anda batal berangkat haji"
"Benar"
"Apa yang terjadi?"

"Ketika itu, Istri saya hamil, dan mengidam. Waktu saya hendak berangkat, saat itu dia ngidam berat"
"Suamiku, apakah engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?"
"Iya, sayang"
"Cobalah kau cari, siapakah yang masak sehingga baunya begitu nikmat. Mintalah sedikit untukku"

"Kemudian saya pun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu tinggallah seorang janda dan enam anaknya. Saya mengatakan kepadanya, bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya"

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan, "tidak boleh, Tuan"

"Dijual berapapun akan saya beli"
"Makanan itu tidak dijual, Tuan" katanya sambil berlinang mata.
"Kenapa ?"

Sambil menangis, janda itu menjawab, "Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan"

Dalam hati saya, Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim. Karena itu saya mendesaknya lagi.

"Kenapa ?"
"Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah sama sekali tak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk kami masak, dan kami makan" Sesenggukan janda itu menjelaskan.

"Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram"

Pengharamannya disebutkan secara jelas dan tegas di dalam hadits dan bukan di dalam Al-Quran, tidak sekadar disebutkan kriterianya.

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأْهْلِيَّةِ فَإِنَّهَا رِجْسٌ
Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah melarang kalian memakan daging himar ahli (keledai peliharaan), karena hewan itu najis (kotor).
(HR. Bukhari)
Mendengar ucapan tersebut, saya menangis, kemudian kembali pulang. Saya ceritakan perihal kejadian itu pada istriku, ia pun menangis. Hingga akhirnya, kami memasak makanan dan mendatangi rumah janda tersebut.

"Ini masakan untukmu" 

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka. 

"Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakanlah untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi"

Ya Allah ... disinilah Hajiku
Ya Allah ... disinilah Makkahku

Mendengar cerita tersebut, Abdullah al Mubarak pun tak bisa menahan air matanya.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya” Ucapnya.

MashaAllah, Subhanallah, Allah Maha Besar.
Sungguh luar biasa kisah dari Sa'id ibn Muhafah tersebut. Dia adalah hanya seorang tukang sol sepatu. Tetapi, keimanannya sungguh luar biasa. Dia begitu peduli dengan janda tersebut, bahkan dia rela memberikan uang yang telah ditabungnya untuk naik melakukan ibadah haji untuk diberikan kepada janda tersebut agar supaya janda tersebut dapat makan dari uang yang halal. Betapa luar biasa hati beliau. Apakah kita mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh orang tersebut? Dari kisah ini dapat diteladani bahwa kita sebagai sesama umat, haruslah berbuat baik kepada siapapun itu. Karena kita tidak pernah tahu balasan apa yang akan kita dapatkan dari Allah SWT atas kebaikan yang telah kita lakukan tersebut. MaShaAllah...




love,
Sylvia


Aisyah r.a, Istri Dunia dan Akhirat Nabi Muhammad SAW

10:17 PM

Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, Istri tercinta Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam. Aisyah r.a memiliki tempat istimewa di hati Rasullullah, dibandingkan istri-isteri yang lainnya.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Amr Bin Ash: "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling engkau cintai?', 'Aisyah' jawab beliau. 'Dari kalangan lelaki?' tanyaku. 'Ayahnya (Abu Bakar),'jawab Beliau. 'Lalu siapa?' tanyaku. 'Kemudian Umar bin Khaththab' jawab Beliau. Setelah itu Beliau menyebut beberapa orang."

Istri pertama Rasulullah adalah Khadijah r.a, seorang wanita yang berjasa besar mendampingi Rasul di awal-awal kenabian di Mekkah. Atas jasanya tersebut, Beliau menyebutnya 'tak tergantikan'. Setelah meninggalnya Khadijah r.a, datanglah Malaikat Jibril. Melalui mimpinya, Beliau menggambarkan siapa sosok pengganti Khadijah r.a buat Rasulullah. Malaikat Jibril menunjukkannya pada selembar kain sutera dan ketika dibuka ternyata itu adalah raut wajah Aisyah ra. Ya, Aisyah r.a adalah wanita yang dipilihkan Allah SWT untuk Rasulullah.

Aisyah r.a mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda
"Aku diperlihatkan dirimu dalam mimpi sebanyak 2 atau 3 malam. Malaikat membawa (gambar)mu dalam sehelai kain sutera, lalu ia berkata 'ini istrimu'. Aku menyingkap kain itu, rupanya kamulah wanita itu. Kemudian aku berkata, Jika ini ketentuan dari Allah, pasti Dia tunaikan"

Aisyah r.a dipinang saat usianya masih 7 tahun. Usia memang masih kecil, tetapi di Semenanjung Arab, umumnya gadis kecil mengalami kematangan dalam hal apa pun lebih awal tak terkecuali Aisyah ra. Aisyah ra mampu menjadi tempat mengadu, curhat, atau bertanya para wanita di Madinah, terutama kaitannya dengan masalah kewanitaan dan rumah tangga, meski usianya baru belasan tahun.

Ada pun beberapa keistimewaan dari Aisyah r.a yaitu :
1. Kedua orang tuanya adalah orang-orang mulia yang hijrah bersama Rasulullah ke Madinah. 
Rasulullah sangat menghormati Abu Bakar r.a. Saat istri beliau Zainab Binti Jahsy menghadap ke Beliau dengan maksud menyampaikan kecemburuan istri-istri yang lain tentang perlakuan istimewa beliau ke Aisyah r.a, Beliau tersenyum dan mengatakan: 'ia adalah putri Abu Bakar';

2.  Aisyah r.a adalah wanita paling alim daripada wanita lainnya
Berkata az-Zuhri"Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama."  (Al-Mustadrak Imam Hakin (4/11))
Berkata Atha', “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Al-Mustadrok Imam Hakim (4/11))

3.  Aisyah r.a adalah wanita yang istimewa
Diriwayatkan dari Abu Musa, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, "banyak kaum pria yang sempurna, tetapi di antara wanita yang sempurna adalah Maryam binti Imran dan Aisyah Istri Firaun. Sedangkan keistimewaan Aisyah atas seluruh wanita seperti keistimewaan Tsarid (jenis makanan dari daging danroti yang diremukkan) dari makanan lain."

4. Allah SWT menurunkan wahyu ketika Rasulullah bersama Aisyah r.a
Diriwayatkan dari Aisyah, ketika Istri-istri Nabi cemburu kepadanya, Nabi Muhammad SAW bersabda: janganlah menyakitiku dengan cara menyakiti Aisyah, karena wahyu tidak pernah datang kepadaku ketika aku berada di dalam baju seorang wanita kecuali Aisyah."
Dalam hadits ini jelas sekali bahwa pernah beberapa kali Rasulullah menerima wahyu ketika bersama Aisyah r.a. 

Dan ada pula Ayat yang diturunkan oleh Allah SWT disebabkan oleh Aisyah. Ayat itu adalah mulai dari Surat An Nur ayat 11-20, sebagai  pembersihan Allah SWT atas fitnah yang disebarkan untuk Aisyah r.a.

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚلَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖبَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚلِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚوَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar."
(Q.S An Nur : 11)

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata."

(Q.S An Nur : 12)



لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚفَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.

(Q.S An Nur : 13)


 وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

(Q.S An Nur : 14)


 إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

(Q.S An Nur : 15)


وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar."

(Q.S An Nur : 16)


 يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman,

(Q.S An Nur : 17)


وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚوَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

(Q.S An Nur : 18)


إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚوَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

(Q.S An Nur : 19)


 وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).

(Q.S An Nur : 20)

5. Aisyah r.a adalah satu-satunya istri yang dinikahi Nabi dalam keadaan masih gadis

6. Nabi Muhammad SAW meninggal dalam dekapan Aisyah r.a

7. Nabi Muhammad SAW dimakamkan di kamar (rumah) Aisyah r.a

8. Aisyah r.a adalah satu-satunya wanita dari 7 orang/sahabat yang banyak meriwayatkan hadits
Aisyah r.a adalah sosok wanita yang cerdas, pintar, dan mampu meriwayatkan banyak hadits. Menurut sumber, hadits-hadits riwayat Aisyah r.a kurang lebih ada 2210 hadits. Aisyah r.a memiliki ingatan yang luar biasa, sehingga dapat mengingat perkataan maupun perbuatan yang dilakukan oleh suaminya yaitu Rasulullah SAW selama kurang lebih 9 tahun berumah tangga.

9. Jibril pernah menyampaikan salamnya untuk Aisyah r.a
Diriwayatkan dari Az Zuhri, dia berkata: abu Salamah menceritakan kepadaku bahwa Aisyah  berkata: Rasulullah SAW bersabda: wahai Aisyah, ini adalah Jibril, dia menyampaikan salam kepadamu.” Aisyah lalu berkata, wa’alaihissalam warahmatullah, engkau melihat apa yang tidak kami lihat ya Rasulullah.”

Tak heran jika Rasulullah SAW menempatkannya dalam hati dan menjadikannya istri tidak hanya di dunia namun di akhirat. Aisyah r.a berkata: "Aku bertanya kepada Nabi SAW, 'Wahai Rasulullah, siapakah istri-istrimu di surga?', 'Kamu termasuk di antara mereka' jawab beliau" (HR. Bukhari dalam As-Shahih)

Sahabat-sahabat sholihahku, mungkin kita memang tidak secantik, secerdas, dan sealim Aisyah r.a, tapi hal menarik yang dapat diambil teladannya seorang Aisyah r.a yaitu ketika seorang wanita memasuki kehidupan rumah tangga bersama suaminya, maka wanita tersebut harus matang, siap mendampingi suami dalam suka dan duka, banyak belajar, dan dapat memberikan kebaikan untuk suami, anak-anaknya kelak, serta masyarakat. Sehingga keluarga kita nantinya dapat meraih keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, serta ridho dari Allah SWT. Semoga kita semua, para wanita, dapat meneladani sifat-sifat istimewa dari seorang Aisyah r.a. Aamiin Ya Rabbal Alamin..

Semoga post ini dapat berguna dan bermanfaat terutama bagi saya, pribadi, maupun pihak yang membacanya.




love,
Sylvia