Kisah Seorang Wanita Muda : Hidayah Datang Ketika Aku Sedang Bekerja

6:53 PM

Allah SWT Maha Sempurna Rahmat dan Kebaikan, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdo'a memohon hidayah kepada-Nya, yang mana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Fatihah;

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
"Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus."
(Q.S Al-Fatihah : 6)

Hidayah itu sendiri dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu :
  1. Hidayah Bayan, hidayah yang berupa keterangan atau petunjuk hidup, yaitu yang menjadi petunjuk hidup itu sendiri bagi seorang muslim adalah Al-Qur'an dan As Sunnah yang Shahih; dan
  2. Hidayah Taufiq, hidayah berupa keteguhan, hidayah yang merupakan hak prerogatif Allah SWT yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya.

Kali ini, aku akan menceritakan suatu kisah tentang kisah seorang perempuan muda yang besar di Ibukota Jakarta yang mendapatkan hidayah Taufiq dari Allah SWT.
Di suatu kisah, hiduplah seorang anak perempuan yang tumbuh dan besar di Jakarta. Dia bernama Safira Laras. Safira merupakan anak yang periang, ramah, serta pandai bergaul dengan yang lainnya, sehingga membuat teman-temannya nyaman berada di sekitarnya. Safira tumbuh menjadi gadis yang baik dan penurut. Apa pun yang dikatakan oleh orang tuanya, dia turutin. Dia pun tumbuh menjadi gadis yang rajin. 
Sewaktu sekolah, dia selalu mendapatkan peringkat kelas. Tetapi, kedua orang tuanya merasa itu semua kurang dan kurang. Tapi, Safira tetap bersabar dan selalu menunjukkan usaha nya yang keras untuk mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.
Sampai suatu ketika, dia pun masuk dunia perkuliahan. Dia pun kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Awal kuliah, dia masih menjadi gadis yang baik, penurut, dan tidak pernah macam-macam. Sampai suatu ketika, dia pun merasa usahanya sia-sia. Dia merasa dia selalu salah di mata kedua orang tuanya. Dia merasa dia tidak pernah bisa membuat orang tuanya bangga.
Dia pun kemudian mengalihkan semua masalah-masalah kehidupan, baik itu percintaan, keluarga, sampai dengan masalah kampus dengan berlari ke dunia gemerlap. Dia mencoba melakukan apa yang namanya "dugem" atau dunia gemerlap bersama teman-temannya. Dia selalu pulang larut malam, atau bahkan tidak pulang dan menginap di rumah temannya.
Hal itu terus berlanjut sampai dengan dia lulus dan masuk ke dunia kerja. 
Sampai suatu ketika, dia merasa:

"Aku capek. Apa yang aku lakukan tidak ada manfaatnya sama sekali. 
Bahkan bukan cuma tidak ada manfaatnya, Malah hanya mendatangkan mudharatnya saja."

Ketika dia lagi sering-seringnya pergi ke dunia gemerlap, rumahnya pun kacau. Orang tuanya ribut setiap saat, setiap detik, dan setiap waktu. Para lelaki yang dekat dengannya pun pergi satu per satu ke pelukan wanita lain.
Sampai pada akhirnya, dia pun memutuskan untuk memberhentikan kesehariannya yang tidak ada manfaatnya sama sekali itu. Dia merasa bencana dan musibah serta cobaan yang dia dapat dari Allah SWT adalah karena ulahnya sendiri. Dia merasa malu, jijik, dan menangis ketika mengingat dirinya sendiri itu.
Dia pun kemudian memperbaiki shalatnya, memperbaiki ibadahnya kepada Allah SWT. Perlahan demi perlahan, dia pun mulai memperbaiki sifat dan tingkah lakunya.
Dan dalam masa usaha dia untuk berubah, dia pun bertemu dengan seorang pria. Pria itu juga bisa membantu dirinya untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi. Tapi, justru hal itu malah membuatnya lebih mencintai pria itu ketimbang mencintai Allah SWT, Pencipta-Nya. Karena itulah, Allah SWT cemburu dengan pria tersebut, saking sayangnya Dia dengan Safira. Dia pun membuat Safira dan pria itu harus berpisah dengan cara yang tidak mengenakkan, karena lelaki itu bukanlah yang terbaik untuk dirinya.
Akan tetapi, Safira merasa bersyukur.
Safira merasa Allah SWT begitu baik dengan dirinya.
Bukan hanya perpisahan degan pria yang bukan jodohnya saja, tetapi Allah juga telah mengabulkan semua permohonan dirinya selama ini. Di pengujung tahun, kedua orang tuanya kembali harmonis, tidak ada kemarahan, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada pelemparan barang ini itu. Keluarganya kembali bahagia seperti sedia kala, sewaktu dia menjadi anak yang baik dan penurut tersebut.

Apakah ini berarti hidayah telah turun kepada Safira?
Jawabannya : belum.

Kejadiannya adalah awal tahun. Waktu itu, matahari sedang terik-teriknya. Safira pun sedang bekerja di kantornya seperti biasanya. Dia sedang mengetik di depan komputer lalu tiba-tiba sesuatu muncul di pikirannya.
Ya, sesuatu itu adalah Hijab/Kerudung. 
Memang, sebelum siang itu, jauh sebelum itu, Safira sudah berpikiran untuk memakai hijab dan menutup auratnya. Tetapi, apa daya? Dia merasa dia masih belum pantas menggunakan hijab tersebut. Dia merasa dosa-dosanya terlalu banyak sehingga hijab itu tidak pantas untuk dipakai olehnya.
Namun, siang itu, ketika dia sedang bekerja, mengetik dan mengetik, ketika Hijab terlintas dipikirannya, dia pun langsung yakin dan mantap.
"Besok dan seterusnya aku akan pakai Hijab"
Begitulah pikiran yang ada di benaknya siang itu. Dan akhirnya pun, besoknya benar adanya. Penampilan Safira berubah drastis. Safira yang tadinya selalu menggunakan rok ke kantor, yang selalu menggerai rambutnya, kini berubah menjadi sosok wanita yang tertutup dengan Hijabnya tersebut. Teman-temannya pun terkejut melihatnya, seakan tidak percaya kalau Safira telah mengganti penampilannya tersebut.
"Ada angin apa kamu pakai kerudung?"
"Subhanallah Safira, sekarang berkerudung? Cantik."
"Wow berkerudung? Perasaan kemarin baru posting foto pakai bikini doang, baru posting di tempat malam, tapi sekarang berkerudung?"
"Alhamdulillah berkerudung. Tapi, saran ya Fir, kalau bisa jangan langsung tertutup gitu. Dimulai dari pakai baju panjang-panjang aja dulu. Takutnya kan nanti kamu lepas lagi."
Ya, bahkan ada yang menyangka dirinya akan melepas hijabnya itu suatu saat. Sungguh sangat menyedihkan. Sedih sekali hati Safira sewaktu mendengar omongan itu. 
".....Apakah aku sehina itu di mata dirinya? Aku tahu, aku banyak melakukan kesalahan, tapi aku ingin berubah. Apakah tidak boleh jika aku berubah jadi lebih baik?"
Di awal-awal Safira memutuskan hijrah, itu merupakan hal yang tidak gampang. Ada yang berpandangan negatiflah kepada dirinya. 
Jangan-jangan kamu pakai karena perempuan itu juga pakai hijab?"
Ini adalah perkataan yang sangat menyedihkan dan memilukan bagi Safira. Dia disangka mengikuti perempuan yang merupakan jodoh lelaki yang meninggalkan dirinya itu. Padahal, tidak ada sama sekali terlintas dalam pikirannya untuk mengikuti wanita itu. 
Memang, terkadang untuk berubah, membutuhkan suatu proses. Membutuhkan suatu perjuangan. Tapi, semua dihadapi oleh Safira dengan senyuman.
Jika ada yang bertanya, "Pakai Hijab nih sekarang? Sampai kapan? Seterusnya kah?
Maka, dengan senyuman di bibirnya, dia akan menjawab : 

"InShaa Allah, doain ya supaya aku bisa Istiqhomah selalu."

Dan sampai sekarang Safira pun tetap menggunakan Hijab kebanggaan dirinya. Safira merasa Hijab nya itu merubah segala kehidupannya. Safira merasa hidupnya kini lebih berarti, lebih berwarna, dan lebih tenteram. Dulu mungkin hatinya penuh kehampaan, penuh kegelisahan dan penuh kekhawatiran, tapi sekarang dia merasa damai. Dia seakan-akan telah menemukan kedamaian dalam Hijabnya tersebut. Dia pun lebih dihormati oleh kaum Adam. Dia tidak lagi mendapatkan lecehan sana-sini, tapi yang dia dapat adalah senyuman dan ucapan : "Asalammualaikum.."

Dia sangat beruntung karena Allah SWT telah memberikan hidayah yang luar biasa sebelum ajal menjemputnya. Bayangkan, jika Allah SWT tidak memberinya hidayah tersebut dan lalu dia keduluan dijemput oleh Malaikat Izrail, Malaikat Pencabut Nyawa? Dia pun tidak sempat untuk bertaubat, memohon ampunan dari-Nya? Astaghfirullah, Nauzubillahminzhalik. 
Jangan sampai kita menjadi manusia menyesal di kemudian hari. 
Menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini untuk ingkar dan lalai kepada-Nya. Di alam sana, betapa banyaknya manusia yang ingin dihidupkan kembali hanya agar dapat bertaubat dan memohon ampunan dan belas kasih Allah SWT, karena semasa hidupnya telah menyia-nyiakan waktu berharganya tersebut.

Subhanallah, betapa cintanya Allah SWT kepada umat-Nya. Dia telah memberikan hidayah-Nya yang luar biasa dalam diri Safira. Hingga kini, Safira masih terus berharap dan berdo'a kepada Allah SWT agar hatinya tetap diteguhkan dalam Iman dan Islam, agar dia selalu mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kedamaian dalam hatinya. Aamiin Ya Rabbal Alamin..


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi 'Ala Diinik
Artinya: Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.
(HR. Ahmad dan at Tirmidzi)


Jadi, sahabat-sahabat sholeh dan sholihahku, hidayah bisa datang kapan pun dan kepada siapa pun yang dikehendaki oleh-Nya. Bagi kita yang mendapatkan hidayah dari-Nya, bersyukurlah. Karena sesungguhnya tidak semua orang muslim bisa mendapatkan hidayah tersebut. Bahkan, ada yang sangat berharap untuk mendapatkan hidayah-Nya, tetapi tidak kunjung juga dia dapatkan. 

Kisah Safira membuat kita tersadar bahwa Allah SWT itu sangat baik dan Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Dia akan memaafkan dan mengampuni semua dosa-dosa umat-Nya, meski dosanya sebesar lautan. Jangan pernah patah semangat dan lelah dalam berdo'a kepada-Nya. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana Allah SWT mengampuni dosa kita dan mengabulkan setiap do'a yang kita panjatkan kepada-Nya. Semoga kita akan selalu menjadi umat muslim yang selalu istiqhomah dalam mencari kebenaran dan kedamaian hati kita. Aamiin Ya Rabbal Alamin...

Semoga kisah Safira ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi siapa pun yang membacanya.

(Jika terdapat kesamaan nama/atau apapun itu, itu hanyalah kebetulan semata. Penulis sama sekali tidak ada niatan apa pun.)



love,
Sylvia


You Might Also Like

0 Comments