Kisah Imam Ahmad Bin Hanbal & Tukang Roti

12:45 AM

Dikisahkan dalam kitab Shifatus Shafwah karangan Ibnul Jauzi, ada seorang tukang roti yang tidak pernah berhenti beristighfar. Suatu hari, Imam Ahmad Bin Hanbal, seorang ahli hadits dan teologi Islam (yang dikenal dengan Imam Hambali) melakukan perjalanan jauh namun kemalaman, sehingga sulit untuk mencari tempat untuk bermalam. Kemudian, Beliau pun meminta izin kepada pengurus masjid setempat untuk memperbolehkannya tidur di Masjid tersebut. Tapi, sayang, dikarenakan dikarenakan keterbatasan informasi dan teknologi yang menyebabkan ketenaran Imam Ahmad belum sampai di daerah tersebut, pengurus Masjid pun tidak memperbolehkannya menginap. Sang Imam besar pun sempat luntang-lantung pada malam itu hingga akhirnya Beliau bertemu dengan pengusaha roti dan bersedia mengajaknya untuk menginap di rumahnya. Ketika sampai di rumahnya, Imam Ahmad terus memperhatikan bahwa sang tukang roti tersebut senantiasa beristighfar dalam setiap aktivitasnya. Lidahnya selalu basah dengan zikir dan meminta ampunan Allah SWT. 

"Wahai Tuan, apa fadhilah yang Tuan dapatkan dari amalan selalu beristighfar tersebut? 
"Fadhilahnya, setiap doa yang saya panjatkan kepada Allah, pasti selalu dikabulkan-Nya."

Imam Ahmad pun sangat salut kepadanya.

"Tapi, ada satu doa saya yang hingga saat ini belum dikabulkan oleh Allah." lanjut si Tukang Roti.
"Doa apakah itu, Tuan?"
"Dari dahulu, saya berdoa kepada Allah agar saya dipertemukan dengan Imam mazhab saya, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal. Namun hingga saat ini, saya belum juga dipertemukan dengannya."

Mashaa Allah, mendengar hal tersebut, Imam Ahmad pun kaget. Ini lah alasan yang memaksa seorang Imam besar luntang-lantung tengah malam. Ini juga alasannya, mengapa seorang Imam besar diusir dari Masjid dan terpaksa berjalan tengah malam hingga akhirnya dipertemukan dengan si tukang roti. 

Semua bukanlah suatu kebetulan, melainkan skenario Allah SWT untuk menjawab do'a si tukang roti.

Demikian dahsyatnya kekuatan istighfar, sehingga membuat Allah SWT enggan menolak do'a yang dipanjatkan kepada-Nya. Allah SWT menuntun langkah seorang Imam yang berkelana dari negeri ke negeri agar sampai di negeri si tukang roti. Kemudian Allah SWT membuat suatu keadaan sehingga mereka dipertemukan.

Subhanallah, MashaAllah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT.

Disebutkan pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW selalu beristighfar setiap hari minimal 100 kali, Beliau bersabda, yang artinya : 

"Sungguh aku (Rasulullah) beristighfar memohon ampun kepada Allah 'Azza Wa Jalla dan bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali." 
(HR. Nasa'i)

Bayangkan, seorang Rasulullah SAW, manusia yang ma'shum, terjaga dari kesalahan, seseorang yang sudah dijamin oleh Allah SWT tempat yang mulia di Surga, Nabi terakhir utusan-Nya, selalu mengucapkan istighfar setiap harinya sebanyak 100 kali, lantas siapakah kita? Manusia akhir zaman dengan doa yang begitu besar.

اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ
Astaghfirullah hal adzim - Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung

Kisah Imam Ahmad Bin Hanbal dan Tukang Roti mengajarkan kepada kita bahwa kalimat Istighfar yang kita ucapkan tidak hanya untuk memohon ampun atau pun bertaubat kepada Allah SWT, agar diampuninya dosa-dosa kita, melainkan Istighfar juga dapat memberikan karunia dan kenikmatan dari Allah SWT yang tidak ternilai dan terhitung besarnya. Beristighfar dengan penuh keinsyafan dan kesadaran, dapat mengundang rezeki dari Allah baik itu berupa hujan, harta, anak keturunan (dalam hal ini berarti juga dapat membantu dalam hal perjodohan. Bagaimana mungkin akan diberikan anak keturunan, jika jodohnya tidak ada?), perniagaan dan perkebunan.

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: 

"Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka."
(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Hakim)

Istighfar dengan sungguh-sungguh juga dapat menahan datangnya azab dan bala bencana dari Allah SWT, dimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 33 :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

yang artinya : "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar (meminta ampun)." 
(QS. Al-Anfal : 33)

MashaAllah, Subhanallah, Allah Maha Besar.
Marilah kita senantiasa memperbanyak istighfar, dengan sepenuh hati dan penyesalan atas semua dosa-dosa yang telah kita lakukan, baik di masa lampau, masa saat ini, atau pun masa yang akan datang, baik yang disengaja, maupun yang tidak disengaja, dan seutuhnya hanya mengharapkan ampunan dari Allah SWT. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang berbahagia kelak di yaumul hisab dikarenakan banyaknya kita beristighfar. 
Aamiin Ya Rabbal Alamin..




Love,
Sylvia

You Might Also Like

6 Comments